PRODUK BISA DITIRU. TETAPI BISAKAH WARISANNYA?

PRODUK BISA DITIRU. TETAPI BISAKAH WARISANNYA?

TRIBUTE TO IBU MARTHA TILAAR — SERI 12

Tentang Martha Tilaar, brand yang melampaui produknya, dan pemikiran yang diam-diam banyak membentuk perjalanan saya.


Oleh Wendra Wilendra, M.MT. (Kang Wendra)

Brand & AI Architect


Ada Pelajaran yang Tidak Pernah Masuk ke Dalam Naskah Produksi

Dalam dunia produksi televisi, kita terbiasa bekerja dengan naskah.

Ada gagasan yang harus diterjemahkan. Ada pesan yang harus disampaikan. Ada cerita yang harus dibangun agar penonton bukan hanya mendengar, tetapi juga memahami.

Namun setelah bertahun-tahun bekerja, saya menyadari satu hal menarik.

Kadang pelajaran paling berharga justru bukan bagian dari materi yang sedang kita produksi.

Saya pernah mendapat kesempatan menjadi producer dan director serial televisi Martha Tilaar Marketing in Venus di Metro TV.

Sebuah pekerjaan yang mempertemukan saya dengan dua perspektif yang sangat menarik.

Di satu sisi, ada Pak Hermawan Kartajaya, dengan pemikiran marketing yang membantu menjelaskan hubungan antara manusia, pasar, dan brand.

Di sisi lain, ada Ibu Martha Tilaar, yang melalui perjalanan bisnisnya memperlihatkan bagaimana pemikiran strategis harus berhadapan dengan keputusan dan tantangan nyata.

Yang satu membantu menjelaskan gagasan.

Yang lain memperlihatkan bagaimana gagasan dijalankan.

Bagi saya, pertemuan antara keduanya sangat berharga.

Karena di dunia agency, kita terbiasa mengolah pemikiran menjadi komunikasi.

Tetapi di dunia bisnis, pemikiran harus melangkah lebih jauh.

Ia harus menjadi keputusan.

Menjadi sistem.

Menjadi tindakan.

Dan pada akhirnya, menghasilkan sesuatu yang benar-benar memiliki nilai bagi manusia.

Saat itu saya menjalankan tanggung jawab profesional saya. Memahami materi, menjaga arah cerita, menerjemahkan gagasan yang kompleks menjadi tayangan yang bisa dipahami penonton.

Tetapi di balik pekerjaan tersebut, ada pengalaman lain yang saya bawa pulang.

Bukan sekadar pengetahuan marketing.

Melainkan kesempatan untuk melihat hubungan antara cara berpikir, cara mengambil keputusan, dan cara membangun sesuatu yang nyata.

Bertahun-tahun kemudian, ketika saya bekerja dengan berbagai persoalan brand dan bisnis, pengalaman itu tetap menjadi salah satu referensi yang saya bawa.

Bukan sebagai rumus yang harus ditiru.

Melainkan sebagai bahan pemikiran yang terus saya uji melalui persoalan-persoalan baru.

Dan ketika sekarang saya mengenang Ibu Martha, ada sesuatu yang terasa jauh lebih personal.

Sebagian dari apa yang beliau wariskan kepada saya bukan sesuatu yang pernah secara resmi diberikan. Melainkan pelajaran yang tumbuh melalui kesempatan untuk mengenal, bekerja, dan memahami perjalanan beliau.

Itulah yang ingin saya ceritakan dalam tulisan terakhir ini.


Produk Bisa Ditiru. Tetapi Mengapa Brand Tidak Semudah Itu Digantikan?

Ada satu kenyataan dalam dunia bisnis yang sering kali tidak menyenangkan untuk didengar.

Produk yang bagus belum tentu menjadi brand yang kuat.

Kita bisa memiliki formula yang bagus.

Kemasan yang menarik.

Harga yang kompetitif.

Distribusi yang luas.

Bahkan kampanye marketing yang sangat kreatif.

Tetapi semua itu belum otomatis membuat orang memiliki alasan yang kuat untuk terus memilih kita.

Mengapa?

Karena dalam banyak kategori, apa yang hari ini kita anggap sebagai keunggulan produk bisa menjadi standar industri beberapa tahun kemudian.

Sebuah inovasi dapat dipelajari.

Fitur dapat diadaptasi.

Desain dapat menginspirasi kompetitor.

Strategi promosi dapat diikuti.

Dan ketika teknologi membuat proses pengembangan semakin cepat, jarak antara satu produk dengan produk lainnya bisa semakin pendek.

Tetapi ada sesuatu yang tidak bisa diperoleh hanya dengan mempelajari produk kompetitor.

Alasan mengapa manusia mempercayai sebuah brand.

Kepercayaan tidak bekerja seperti formula yang dapat disalin.

Ia terbentuk melalui pengalaman.

Melalui janji yang ditepati.

Melalui konsistensi antara apa yang dikatakan dan apa yang dilakukan.

Melalui kemampuan sebuah brand mempertahankan relevansinya ketika pasar terus berubah.

Dalam marketing, kita mengenal konsep brand equity—nilai yang melekat pada sebuah brand melalui pengenalan, asosiasi, persepsi kualitas, pengalaman, dan hubungan dengan konsumennya.

Namun ada hal yang sering luput ketika kita membahasnya.

Brand equity bukan hanya sesuatu yang dibangun perusahaan melalui kampanye.

Ia juga terbentuk dalam ingatan manusia.

Dan ingatan manusia tidak bisa dibeli sebagai barang jadi.

Kompetitor bisa membeli media yang sama. Tetapi mereka tidak otomatis mendapatkan tempat yang sama dalam ingatan konsumen.

Ketika saya melihat perjalanan Ibu Martha Tilaar, saya menemukan relevansi dari pemikiran tersebut.

Sariayu bukan sekadar rangkaian produk kecantikan.

Melalui perjalanan panjangnya, brand tersebut membangun hubungan dengan gagasan tentang kecantikan Indonesia, tradisi Nusantara, dan identitas budaya yang menjadi bagian dari komunikasinya.

Tentu hubungan itu harus terus dijaga melalui kualitas produk dan pengalaman konsumen. Sejarah yang panjang bukan jaminan sebuah brand akan selalu dipilih.

Tetapi sejarah dapat menjadi sumber makna yang tidak bisa diperoleh kompetitor hanya dengan meniru tampilan sebuah produk.

Di sinilah saya melihat perbedaan antara product advantage dan brand advantage.

Keunggulan produk menjawab pertanyaan: Mengapa produk ini layak digunakan?

Keunggulan brand menjawab pertanyaan yang lebih luas: Mengapa brand ini memiliki arti dan layak dipercaya?

Keduanya penting.

Namun keduanya tidak sama.

“Produk bisa memenangkan transaksi. Brand yang dipercaya memiliki kesempatan memenangkan hubungan.”

— Kang Wendra


Yang Bisa Disalin Adalah Strateginya. Yang Tidak Bisa Dipinjam Adalah Sejarahnya.

Bayangkan dua perusahaan menggunakan strategi marketing yang hampir sama.

Keduanya mengangkat bahan alam Indonesia.

Keduanya menggunakan motif budaya Nusantara.

Keduanya berbicara tentang pemberdayaan perempuan.

Keduanya bahkan menggunakan kalimat yang terdengar sama meyakinkannya.

Di atas kertas, positioning mereka mungkin terlihat serupa.

Tetapi apakah maknanya otomatis sama?

Belum tentu.

Karena konsumen tidak hanya menilai apa yang dikatakan sebuah brand.

Mereka juga dapat menilai apakah ada bukti yang mendukungnya.

Di sinilah brand authenticity menjadi penting.

Autentisitas bukan sekadar kemampuan menyusun cerita yang terdengar tulus.

Ia berkaitan dengan kesesuaian antara identitas yang dikomunikasikan dan kenyataan yang dapat diperiksa.

Sebuah brand dapat mengklaim peduli terhadap budaya.

Tetapi apa yang benar-benar dilakukannya untuk memahami budaya tersebut?

Sebuah brand dapat berbicara tentang sains.

Tetapi apakah ia memiliki kemampuan penelitian dan pengembangan yang mendukung klaimnya?

Sebuah brand dapat menyebut pemberdayaan sebagai nilai.

Tetapi apakah ada aktivitas nyata yang menciptakan kesempatan bagi manusia?

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu membuat kita tidak berhenti pada komunikasi.

Kita mulai melihat struktur pembentuk kepercayaan.

Dalam perjalanan Ibu Martha, ada inisiatif yang dapat kita pelajari melalui perspektif tersebut.

Ada pengembangan identitas kecantikan Indonesia melalui Sariayu.

Ada pendidikan profesional melalui Puspita Martha.

Ada kegiatan penelitian melalui Martha Tilaar Innovation Center.

Ada pengembangan tanaman dan bahan baku melalui Kampoeng Djamoe Organik.

Saya tidak melihatnya semata sebagai daftar program perusahaan.

Dari perspektif brand architecture, berbagai aktivitas tersebut memperlihatkan bagaimana identitas, kemampuan, pengetahuan, dan hubungan dengan masyarakat dapat saling mendukung.

Bukan berarti semuanya dirancang sebagai satu sistem sempurna sejak awal.

Namun dalam perjalanan panjangnya, aktivitas-aktivitas itu menyediakan konteks nyata bagi cerita yang dibangun oleh brand.

Dan konteks seperti itulah yang tidak dapat dihasilkan hanya dengan menyalin sebuah kampanye.

Kita bisa meniru cara seseorang menceritakan perjalanannya. Tetapi kita tidak bisa mengaku telah menjalani perjalanan yang sama.

Itulah mengapa dalam membangun brand, saya semakin menaruh perhatian pada hubungan antara claim, evidence, dan experience.

Apa yang kita katakan?

Apa buktinya?

Dan apa yang benar-benar dialami manusia?

Kalau ketiganya saling bertentangan, komunikasi sebaik apa pun pada akhirnya menghadapi masalah kepercayaan.

Tetapi ketika ketiganya selaras, sebuah brand memiliki dasar yang lebih kuat untuk membangun reputasi.

“Cerita yang bagus bisa menarik perhatian. Tetapi cerita yang memiliki bukti memberi orang alasan untuk percaya.”

— Kang Wendra


Marketing Bisa Membuat Brand Terlihat. Tetapi Tidak Bisa Menggantikan Alasan Mengapa Brand Itu Layak Dipilih.

Saya pernah berada cukup lama di dunia agency untuk memahami betapa besarnya kekuatan komunikasi.

Sebuah pesan yang tepat dapat mengubah cara orang memperhatikan produk.

Sebuah kampanye dapat memperkenalkan gagasan yang sebelumnya tidak dikenal.

Sebuah cerita dapat membuat orang melihat sebuah brand dari sudut pandang yang berbeda.

Tetapi saya juga memahami batasannya.

Marketing tidak bisa terus-menerus menggantikan kekurangan yang berada di dalam bisnis itu sendiri.

Kita bisa membuat iklan yang menjanjikan kualitas.

Tetapi jika pengalaman konsumen tidak mendukungnya, janji itu akan kehilangan kekuatan.

Kita bisa menyusun kampanye tentang kepedulian.

Tetapi jika keputusan perusahaan justru bertentangan dengannya, kampanye tersebut akan terasa kosong.

Kita bisa membeli perhatian.

Tetapi perhatian bukanlah kepercayaan.

Dilihat bukan berarti dipercaya. Dikenal bukan berarti dipilih. Dan dipilih sekali bukan berarti akan terus dipercaya.

Saya kira ini salah satu pelajaran marketing yang paling penting.

Karena dalam praktiknya, marketing sering diminta menyelesaikan masalah yang sebenarnya berada di tempat lain.

Produk tidak relevan, marketing diminta membuatnya menarik.

Pengalaman pelanggan buruk, marketing diminta memperbaiki persepsi.

Identitas bisnis tidak jelas, marketing diminta menciptakan cerita.

Padahal ada persoalan yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan mengganti pesan.

Kita harus kembali kepada keputusan bisnisnya.

Ketika saya melihat perjalanan Ibu Martha, saya melihat pentingnya hubungan antara komunikasi dan substansi tersebut.

Sebuah brand kecantikan dapat memiliki cerita tentang identitas Indonesia.

Tetapi agar cerita itu memiliki kedalaman, harus ada pekerjaan nyata yang membuatnya relevan.

Di sinilah pemikiran marketing bertemu dengan kemampuan membangun bisnis.

Marketing membantu orang memahami nilai. Bisnis harus mampu menciptakan dan memenuhi nilai yang dijanjikan itu.

Dan menurut saya, hubungan keduanya menjadi salah satu pelajaran yang terus saya bawa dalam pekerjaan profesional.


Dari Brand Equity ke Legacy: Ketika Nilai Melampaui Hubungan Jual Beli

Ada satu pertanyaan yang menarik ketika kita membicarakan brand besar.

Apa sebenarnya ukuran keberhasilannya?

Apakah penjualan?

Market share?

Brand awareness?

Loyalitas?

Tentu semua itu penting.

Namun ketika kita berbicara tentang legacy, ada dimensi lain yang perlu diperhatikan.

Brand equity terutama membantu kita memahami nilai sebuah brand dalam hubungannya dengan pasar dan konsumen.

Sementara legacy mengajak kita melihat nilai yang dapat terus bermakna melalui kontribusi, pengetahuan, hubungan, dan pengaruh yang ditinggalkan oleh perjalanan seseorang atau organisasi.

Keduanya dapat saling berhubungan, tetapi tidak identik.

Sebuah brand bisa memiliki brand awareness tinggi tanpa kontribusi sosial yang besar.

Sebuah organisasi juga bisa memberi kontribusi penting kepada masyarakat tanpa menjadi brand komersial yang dominan.

Karena itu, saya tidak ingin menyederhanakan legacy sebagai tingkat tertinggi dari brand equity.

Legacy bukan sekadar brand equity yang bertahan lebih lama. Legacy berbicara tentang nilai yang melampaui kepentingan transaksi.

Ketika melihat perjalanan Ibu Martha, perbedaan tersebut menjadi semakin menarik.

Brand yang beliau bangun memiliki sejarah komersialnya sendiri.

Tetapi perjalanan beliau juga berkaitan dengan pendidikan, pengembangan pengetahuan, budaya, dan kesempatan bagi manusia.

Dan bagi saya, kontribusi itulah yang membuat pertanyaan tentang warisan menjadi lebih luas daripada sekadar apakah sebuah brand masih dikenal.

Kita bisa bertanya:

Apa yang dipelajari orang dari perjalanan tersebut?

Kemampuan apa yang ikut berkembang?

Kesempatan apa yang terbuka?

Nilai apa yang masih relevan untuk diteruskan?

Pertanyaan-pertanyaan itu tidak mengurangi pentingnya keberhasilan bisnis.

Justru membantu kita melihat bagaimana keberhasilan bisnis dapat memiliki makna yang lebih luas.

“Brand equity menunjukkan nilai sebuah brand di mata pasar. Legacy mengajak kita melihat nilai yang ikut tumbuh dalam kehidupan manusia.”

— Kang Wendra


Saya Tidak Mewarisi Perusahaannya. Tetapi Saya Membawa Sebagian Pelajarannya.

Kalau kita mendengar kata warisan, pikiran kita biasanya langsung tertuju pada sesuatu yang bisa diserahkan.

Rumah.

Tanah.

Saham.

Perusahaan.

Atau benda-benda yang memiliki nilai.

Semuanya memiliki pemilik, dokumen, dan aturan yang jelas.

Tetapi ada bentuk warisan lain yang bekerja dengan cara berbeda.

Warisan intelektual dan pengalaman.

Ia tidak berpindah tangan melalui akta.

Tidak membutuhkan perubahan nama kepemilikan.

Bahkan kadang tidak pernah disadari ketika prosesnya sedang berlangsung.

Ia terbentuk ketika kita bertemu seseorang, memperhatikan cara orang itu bekerja, memahami keputusan-keputusannya, lalu membawa sebagian pelajaran tersebut ke dalam perjalanan kita sendiri.

Saya tidak mewarisi perusahaan Ibu Martha.

Saya tidak mengklaim sebagai penerus pemikiran beliau.

Dan saya tentu tidak bisa mengatakan bahwa seluruh cara saya bekerja sekarang berasal dari pengalaman bersama beliau.

Perjalanan profesional saya dibentuk oleh banyak orang, banyak pekerjaan, banyak keberhasilan, dan tidak sedikit kesalahan yang harus saya pelajari sendiri.

Tetapi justru karena itulah saya bisa melihat dengan lebih jernih bahwa pengalaman bersama Ibu Martha memiliki tempat tersendiri.

Ada pelajaran tentang membangun identitas tanpa harus kehilangan akar budaya.

Ada pelajaran tentang melihat manusia bukan sekadar sebagai target pasar.

Ada pelajaran tentang menghubungkan pemikiran besar dengan pekerjaan nyata.

Dan ada pelajaran tentang bagaimana sebuah bisnis dapat memiliki kontribusi yang lebih luas daripada apa yang dijualnya.

Saya tidak sedang mengatakan bahwa Ibu Martha pernah duduk lalu mengajarkan semua itu kepada saya satu per satu.

Bukan begitu cara saya memaknainya.

Sebagian pelajaran justru datang ketika kita mengamati, bekerja, berdiskusi, lalu mengolah sendiri apa yang kita temui.

Seperti seseorang yang belajar membaca arah angin.

Tidak semua pengetahuan datang dalam bentuk instruksi.

Kadang kita belajar dari bagaimana sebuah kapal dikemudikan ketika berhadapan dengan gelombang.

Dan bagi saya, perjalanan Ibu Martha memberi banyak bahan untuk memahami bagaimana sebuah bisnis menghadapi dunia nyata.

“Tidak semua warisan diberikan. Sebagian justru tumbuh dari pengalaman yang kita pahami, lalu kita bawa ke dalam keputusan hidup kita sendiri.”

— Kang Wendra


Dari Sebuah Program Televisi, Saya Membawa Cara Membaca yang Lebih Dalam

Ada perbedaan antara mengetahui sebuah konsep dan mampu menggunakannya untuk membaca persoalan.

Kita bisa mengetahui istilah brand positioning.

Bisa memahami consumer insight.

Bisa menjelaskan differentiation, brand equity, atau customer relationship.

Tetapi ketika sebuah perusahaan menghadapi masalah nyata, istilah-istilah itu tidak otomatis memberikan jawaban.

Kita harus memahami konteksnya.

Mengapa konsumen berubah?

Mengapa sebuah brand dipercaya?

Mengapa strategi yang berhasil pada satu perusahaan tidak selalu berhasil pada perusahaan lain?

Mengapa keputusan yang tampak menguntungkan dalam jangka pendek bisa menimbulkan persoalan pada masa berikutnya?

Dan yang lebih penting, bagaimana mengubah pemahaman tersebut menjadi tindakan?

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini selalu menjadi bagian penting dalam pekerjaan saya.

Pengalaman Marketing in Venus memberi saya kesempatan melihat hubungan antara kerangka pemikiran marketing dan praktik sebuah bisnis yang sudah menjalani perjalanan panjang.

Di sana ada satu hal yang semakin saya hargai.

Bisnis tidak dijalankan oleh konsep. Bisnis dijalankan oleh manusia yang harus mengambil keputusan berdasarkan pemahamannya terhadap konsep tersebut.

Kita bisa memiliki strategi yang sama.

Membaca buku yang sama.

Mengikuti seminar yang sama.

Bahkan menggunakan teknologi yang sama.

Tetapi hasilnya bisa sangat berbeda.

Mengapa?

Karena di antara pengetahuan dan tindakan, selalu ada satu lapisan yang tidak bisa dihilangkan.

Human Judgment.

Kemampuan memahami situasi, mempertimbangkan konsekuensi, memilih prioritas, dan memutuskan apa yang paling masuk akal untuk dikerjakan.

Saya melihat pentingnya hal ini semakin jelas sepanjang perjalanan profesional saya.

Dan ketika sekarang saya banyak bekerja dengan brand, AI, serta intelligent business systems, pelajaran tersebut justru semakin relevan.

Teknologi dapat membantu menyediakan informasi.

AI dapat membantu menyusun pilihan.

Sistem dapat membantu mempercepat pekerjaan.

Tetapi tetap ada pertanyaan yang harus dijawab manusia.

Apakah kita benar-benar memahami persoalannya?

Karena mempercepat keputusan yang keliru tidak akan membuat keputusan itu menjadi benar.

Itu hanya membuat kita lebih cepat sampai pada konsekuensinya.

Prinsip yang sekarang saya gunakan, Understand Before You Build, merupakan rumusan saya sendiri dari berbagai pengalaman dan pembelajaran profesional.

Namun pengalaman bersama Ibu Martha menjadi salah satu bagian dari perjalanan panjang yang membantu membentuk cara saya melihat hubungan antara pemahaman, keputusan, dan implementasi.

Bagi saya, itu jauh lebih berharga daripada sekadar mengingat sebuah teori marketing.


Ada Sesuatu yang Tidak Bisa Disalin oleh Kompetitor

Sekarang kita sampai pada pertanyaan yang menjadi judul tulisan ini.

Produk bisa ditiru. Tetapi bisakah warisannya?

Dalam dunia bisnis, meniru sesuatu yang terlihat memang relatif mudah.

Sebuah perusahaan dapat mempelajari bentuk kemasan kompetitornya.

Mengamati komposisi produknya.

Menganalisis strategi distribusinya.

Membuat kampanye dengan pendekatan yang mirip.

Bahkan sekarang, dengan bantuan teknologi, banyak pekerjaan tersebut dapat dilakukan lebih cepat.

Tetapi ada sesuatu yang tidak bisa diperoleh hanya dengan menyalin hasil akhirnya.

Pengalaman.

Hubungan.

Keputusan yang pernah diambil.

Kesalahan yang pernah diperbaiki.

Kepercayaan yang dibangun melalui waktu.

Dan pengetahuan yang tumbuh dari seluruh perjalanan itu.

Bayangkan dua orang memegang resep masakan yang sama.

Bahan-bahannya identik.

Takaran tertulis dengan jelas.

Langkah-langkahnya pun sama.

Tetapi ketika keduanya memasak, hasilnya belum tentu identik.

Karena di luar resep ada pengalaman membaca panas, memahami bahan, menyesuaikan waktu, dan mengetahui kapan sesuatu perlu diubah.

Dalam bisnis, kita sering terlalu sibuk menyalin resep.

Padahal yang membuat sebuah perjalanan memiliki karakter justru banyak terbentuk dari pengalaman orang-orang yang menjalankannya.

Saya melihat perjalanan Ibu Martha melalui perspektif itu.

Orang bisa mempelajari brand yang beliau bangun.

Bisa mengamati produknya.

Bisa membaca strategi bisnisnya.

Tetapi perjalanan puluhan tahun yang membentuk keputusan, hubungan, dan kontribusinya tidak bisa begitu saja disalin menjadi milik orang lain.

Dan menurut saya, di situlah kita perlu membedakan antara meniru hasil dan mempelajari nilai.

Meniru hasil sering membuat kita sibuk menjadi seperti orang lain.

Mempelajari nilai membantu kita membangun sesuatu yang sesuai dengan tanggung jawab kita sendiri.

Saya tidak ingin menjadi Ibu Martha.

Dan tentu saya tidak mungkin menjalani perjalanan yang sama dengan beliau.

Tetapi saya bisa belajar dari bagaimana beliau membangun sesuatu, bagaimana pemikirannya berhubungan dengan tindakan, dan bagaimana kontribusi sebuah bisnis dapat menjangkau kehidupan yang lebih luas.

Warisan yang bermakna tidak menuntut kita menjadi salinan orang yang meninggalkannya. Ia justru memberi kita bekal untuk membangun sesuatu dengan cara kita sendiri.

Itulah yang saya rasa paling berharga.


Barangkali, Pelajaran Terbesar Memang Tidak Pernah Diberi Judul

Ketika kita belajar di sekolah, setiap pelajaran biasanya memiliki nama.

Ada mata pelajaran.

Ada bab.

Ada ujian.

Ada nilai.

Kita tahu kapan sebuah materi dimulai dan kapan dinyatakan selesai.

Tetapi kehidupan profesional tidak bekerja seperti itu.

Kadang seseorang mengajarkan sesuatu kepada kita tanpa pernah menyebutnya sebagai pelajaran.

Kita memperhatikan caranya memandang persoalan.

Mendengar bagaimana sebuah gagasan dijelaskan.

Melihat bagaimana keputusan diterjemahkan menjadi pekerjaan.

Lalu kita melanjutkan perjalanan sendiri.

Bertahun-tahun kemudian, ketika menghadapi persoalan yang berbeda, ada sesuatu dari pengalaman tersebut yang muncul kembali.

Bukan sebagai kalimat yang harus dihafalkan.

Melainkan sebagai cara bertanya.

Cara mempertimbangkan.

Cara melihat kemungkinan.

Dan cara menentukan apa yang layak dikerjakan.

Saya kira, inilah salah satu bentuk pengaruh yang paling dalam dari seseorang terhadap orang lain.

Bukan ketika semua orang terus mengulang perkataannya.

Tetapi ketika pemikiran dan pengalaman yang pernah dibagikannya ikut memperkaya kemampuan orang lain untuk berpikir secara mandiri.

Dalam perjalanan saya, pengalaman bersama Ibu Martha merupakan salah satu bagian dari proses tersebut.

Ada banyak hal yang saya pelajari dari beliau dan dunia bisnis yang beliau bangun.

Sebagian dapat saya jelaskan melalui konsep.

Sebagian dapat saya hubungkan dengan pekerjaan saya sekarang.

Dan sebagian lagi mungkin lebih mudah saya rasakan daripada saya uraikan dengan kalimat yang sempurna.

Tetapi saya tahu satu hal.

Pengalaman itu tidak berhenti menjadi masa lalu hanya karena pekerjaannya telah lama selesai.

Ia tetap menjadi bagian dari perjalanan saya.

Seperti cahaya yang pernah menerangi sebuah ruangan.

Ketika kita berpindah ke ruangan lain, kita memang tidak membawa lampunya.

Tetapi kita membawa kemampuan untuk melihat sesuatu yang sebelumnya mungkin tidak kita perhatikan.

Dan bagi saya, itulah salah satu bentuk warisan yang paling indah.


Ibu Martha, Ada yang Ingin Saya Sampaikan

Ibu Martha,

Ketika dulu saya mendapat kesempatan bekerja dalam produksi Martha Tilaar Marketing in Venus, saya menjalankan pekerjaan yang menjadi tanggung jawab saya.

Ada materi yang harus dipahami.

Ada cerita yang harus dibangun.

Ada episode yang harus diselesaikan.

Saya tidak pernah membayangkan bahwa bertahun-tahun kemudian, pengalaman itu akan menjadi salah satu hal yang saya kenang dengan rasa terima kasih sedalam ini.

Dari perjalanan Ibu, saya mendapat kesempatan melihat bahwa membangun bisnis bukan hanya persoalan memiliki ide.

Ada pekerjaan panjang untuk membuat ide itu hidup.

Ada manusia yang harus dipahami.

Ada keputusan yang harus dipertanggungjawabkan.

Ada identitas yang perlu dijaga.

Dan ada nilai yang dapat tumbuh jauh melampaui tujuan komersial sebuah produk.

Saya membawa pelajaran-pelajaran itu dalam perjalanan saya sendiri.

Tidak selalu dalam bentuk yang sama.

Tidak selalu dengan cara yang sempurna.

Tetapi cukup berarti untuk terus menjadi bahan pertimbangan ketika saya berhadapan dengan persoalan brand, bisnis, dan manusia.

Hari ini, saya semakin memahami bahwa pengalaman profesional yang berharga bukan hanya pengalaman yang menghasilkan pekerjaan bagus.

Kadang pengalaman paling berharga justru meninggalkan sesuatu yang tidak terlihat pada hasil pekerjaannya.

Ia ikut membentuk cara kita memandang dunia.

Ibu,

Saya tidak memiliki kata-kata yang cukup untuk merangkum seluruh perjalanan dan kontribusi Ibu.

Dua belas artikel ini pun tentu tidak akan mampu menceritakan semuanya.

Tetapi setidaknya, melalui tulisan-tulisan ini, saya ingin menyampaikan bahwa perjalanan Ibu bukan hanya layak dikenang karena keberhasilan bisnisnya.

Ada pemikiran, keberanian, ketekunan, dan kontribusi yang pantas terus dipelajari.

Dan secara pribadi, ada satu hal yang ingin saya ucapkan.

Terima kasih karena pernah menjadi bagian dari perjalanan belajar saya.

Terima kasih atas kesempatan untuk mengenal dunia yang Ibu bangun.

Terima kasih atas pelajaran yang saya peroleh melalui pekerjaan, pengamatan, dan pengalaman profesional tersebut.

Dan terima kasih karena sebagian pelajaran itu masih memiliki tempat dalam cara saya berpikir hingga hari ini.

Saya tidak tahu apakah dulu Ibu menyadari betapa berharganya pengalaman tersebut bagi saya.

Mungkin tidak.

Karena sering kali, orang yang memberi pengaruh kepada kehidupan kita tidak pernah mengetahui sejauh mana pengaruh itu akan berjalan.

Tetapi sekarang saya ingin mengatakannya.

Ada bagian dari perjalanan saya yang menjadi lebih kaya karena pernah bersinggungan dengan perjalanan Ibu.

Dan itu akan selalu saya syukuri.


Dua Belas Tulisan, Satu Rasa Terima Kasih

Ketika memulai seri tribute ini, saya ingin mengenang Ibu Martha Tilaar melalui banyak sisi.

Sebagai pebisnis.

Sebagai pembangun brand.

Sebagai perempuan yang membawa identitas kecantikan Indonesia ke ruang yang lebih luas.

Sebagai seseorang yang memperlihatkan bagaimana pengetahuan, budaya, dan bisnis dapat saling berhubungan.

Namun setelah sebelas tulisan, saya sampai pada satu kesimpulan yang terasa jauh lebih pribadi.

Yang paling berharga dari mengenal seseorang tidak selalu terletak pada apa yang kita ketahui tentang dirinya, tetapi pada apa yang berubah dalam diri kita karena pernah mengenalnya.

Saya bisa membaca buku tentang Ibu Martha.

Saya bisa mempelajari strategi bisnisnya.

Saya bisa menganalisis brand yang beliau bangun.

Tetapi pengalaman pernah terlibat dalam pekerjaan yang mempertemukan saya dengan beliau memiliki nilai yang berbeda.

Karena di sana, pengetahuan tidak hanya datang sebagai informasi.

Ia hadir sebagai pengalaman.

Dan pengalaman memiliki cara tersendiri untuk tinggal dalam diri seseorang.

Itulah sebabnya saya tidak ingin menutup seri ini dengan daftar pencapaian.

Pencapaian beliau sudah banyak dibicarakan.

Saya juga tidak ingin menutupnya dengan nasihat bisnis yang terdengar seperti kesimpulan sebuah seminar.

Saya ingin menutupnya dengan sesuatu yang jauh lebih sederhana.

Rasa terima kasih.

Untuk kesempatan yang pernah saya dapatkan.

Untuk pelajaran yang terus saya bawa.

Dan untuk seseorang yang melalui perjalanan hidupnya telah memperlihatkan bahwa membangun sesuatu yang bermakna membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan menjual produk.

Ia membutuhkan pemahaman.

Keberanian mengambil keputusan.

Ketekunan menjalankan gagasan.

Dan kesediaan membangun nilai yang manfaatnya dapat menjangkau orang lain.

Produk bisa ditiru. Strategi bisa dipelajari. Model bisnis bisa diadaptasi.

Tetapi pengalaman, pemikiran, hubungan, dan kontribusi yang terbentuk sepanjang perjalanan seseorang tidak dapat begitu saja disalin.

Kita hanya bisa mempelajarinya.

Mengambil pelajaran yang relevan.

Lalu meneruskannya melalui tindakan kita sendiri.

Dan mungkin, di situlah warisan menemukan maknanya yang paling dalam.

Bukan ketika semua orang berusaha menjadi seperti seseorang yang telah pergi, tetapi ketika apa yang bernilai dari perjalanannya membantu orang lain membangun sesuatu yang juga bermakna.

Selamat jalan, Ibu Martha.

Terima kasih untuk semuanya.

Apa yang pernah saya kerjakan bersama dunia yang Ibu bangun kini menjadi bagian dari masa lalu.

Tetapi pelajarannya tetap memiliki tempat dalam perjalanan saya.

Dan bagi saya, itulah salah satu warisan yang akan terus saya bawa.



THE UNDERLINE

“Saya tidak mewarisi apa yang Ibu Martha miliki. Tetapi saya membawa sebagian dari apa yang beliau ajarkan melalui perjalanan dan karya hidupnya. Dan ada warisan yang justru paling berharga ketika ia tidak berpindah tangan, melainkan ikut membentuk cara kita berpikir.”

— Kang Wendra


Jelajahi 12 Artikel Tribute

Dua belas perspektif tentang perjalanan, pemikiran, kontribusi, dan warisan Ibu Martha Tilaar.

1. https://kangwendra.com/inspiration/belajar-branding-dari-ibu-martha-tilaar-pelajaran-yang-tidak-saya-dapatkan-dari-ruang-kelas

2. https://kangwendra.com/brand/ketika-identitas-indonesia-menjadi-kekuatan-sebuah-brand

3. https://kangwendra.com/brand/ketika-klaim-produk-harus-bisa-dipertanggungjawabkan

4. https://kangwendra.com/brand/tidak-semua-yang-baru-layak-disebut-inovasi

5. https://kangwendra.com/inspiration/warisan-ibu-martha-tilaar-yang-membuat-saya-menulis-buku

6. https://kangwendra.com/brand-architecture/satu-perusahaan-banyak-brand-masing-masing-punya-cerita

7. https://kangwendra.com/brand/museum-martha-tilaar-mengapa-sejarah-perusahaan-penting-bagi-brand-dan-legacy

8. https://kangwendra.com/brand/martha-tilaar-dan-marketing-in-venus-pelajaran-yang-tidak-pernah-berhenti-di-balik-kamera

9. https://kangwendra.com/brand/membawa-kecantikan-indonesia-ke-panggung-dunia

10. https://kangwendra.com/inspiration/martha-tilaar-dan-sebuah-garasi-tempat-kecil-yang-memulai-perjalanan-besar

11. https://kangwendra.com/inspiration/orang-mengenal-ibu-martha-sebagai-pebisnis-kosmetik-ternyata-yang-beliau-bangun-adalah-legacy-untuk-indonesia

12. https://kangwendra.com/inspiration/produk-bisa-ditiru-tetapi-bisakah-warisannya


Penutup seri Tribute to Ibu Martha Tilaar — 12 Artikel. Sebuah refleksi personal dan profesional tentang brand, marketing, pemikiran, pengalaman, dan warisan pembelajaran dari perjalanan Ibu Martha Tilaar.

Artikel Terkait