TRIBUTE TO IBU MARTHA TILAAR — SERI 10
Dari sebuah salon kecil di Menteng hingga kisah garasi Apple, HP, dan Google. Sebuah refleksi tentang keberanian memulai, mitos kesuksesan, dan apa yang sebenarnya membuat sebuah bisnis tumbuh.
Oleh Wendra Wilendra, M.MT. (Kang Wendra)
Brand & AI Architect
Sebelum Ada Sariayu, Ada Sebuah Garasi
Kalau saya menyebut nama Ibu Martha Tilaar, apa yang pertama kali terlintas di pikiran Anda?
Mungkin Sariayu.
Mungkin Biokos.
Atau sebuah perusahaan kosmetik Indonesia yang sudah dikenal selama puluhan tahun.
Wajar.
Tetapi coba kita putar waktu ke tahun 1970.
Belum ada deretan produk kosmetik di rak-rak toko. Belum ada pabrik modern. Belum ada jaringan spa atau berbagai brand yang kemudian kita kenal.
Yang ada justru sebuah salon kecil di garasi rumah orang tua Ibu Martha Tilaar, di kawasan Menteng, Jakarta.
Menurut sejarah resmi Martha Tilaar Group, di sanalah perjalanan bisnis beliau dimulai.
Bayangkan.
Sebuah usaha kecantikan yang kelak berkembang menjadi salah satu kelompok bisnis kosmetik Indonesia justru berawal dari tempat yang biasanya kita gunakan untuk menyimpan kendaraan.
Tidak ada yang istimewa dari sebuah garasi.
Tetapi ada sesuatu yang istimewa dari keputusan untuk mulai bekerja ketika fasilitas yang tersedia masih sangat sederhana.
Dua tahun kemudian, pada 1972, Ibu Martha mengembangkan Martha Griya Salon dengan perawatan kecantikan tradisional berbasis tanaman herbal.
Pada 1977, PT Martina Berto didirikan bersama Bernard Pranata dan Theresia Harsini Setiady. Pabrik modern pertama menyusul pada 1981 di Pulogadung.
Itulah urutan perjalanan yang dicatat dalam sejarah resmi Martha Tilaar Group.
Tentu perjalanan puluhan tahun itu tidak bisa diringkas menjadi cerita sebuah garasi.
Ada orang-orang yang bekerja, mitra yang membantu, keputusan yang harus diambil, serta berbagai tantangan yang dilalui.
Tetapi ketika membaca bagian awal sejarah Ibu Martha, perhatian saya justru berhenti pada satu kata.
Garasi.
Karena saya mengenal tempat itu dengan cukup baik.
Saya Juga Mengenal Rasanya Memulai dari Garasi
Ada alasan pribadi mengapa cerita awal Ibu Martha Tilaar terasa dekat dengan saya.
Saya pun memulai bisnis dari garasi.
Begitu juga istri saya. Ketika memulai usahanya sendiri, tempat awalnya juga sebuah garasi.
Dan lucunya, sampai sekarang, setelah perjalanan bisnis yang kami lalui, salah satu tempat favorit saya untuk bekerja masih tetap garasi.
Entah kenapa.
Mungkin karena di sana saya merasa lebih bebas berpikir.
Tidak harus selalu berada dalam suasana kantor yang formal. Bisa duduk, mengerjakan sesuatu, memikirkan ide baru, atau sekadar mencari jawaban dari persoalan yang sedang saya hadapi.
Saya tidak tahu apakah Ibu Martha memiliki perasaan yang sama terhadap garasi tempat beliau memulai bisnisnya.
Dan saya tentu tidak ingin menyamakan perjalanan kami dengan pencapaian beliau.
Skala, masa, tantangan, dan konteksnya berbeda.
Tetapi ada pengalaman manusia yang terasa akrab.
Ketika memulai sebuah usaha, kita sering belum memiliki semua fasilitas yang kita inginkan.
Belum ada kantor yang representatif.
Belum ada organisasi yang lengkap.
Belum ada sistem yang matang.
Bahkan mungkin masih banyak hal yang belum benar-benar kita pahami.
Tetapi pekerjaan harus dimulai.
Kita mencoba sesuatu.
Menemukan masalah.
Memperbaikinya.
Belajar dari orang yang menggunakan produk atau layanan kita.
Lalu mencoba lagi.
Dan kadang, tempat sederhana justru menjadi saksi dari proses belajar yang paling panjang.
Mungkin itu sebabnya kisah garasi Ibu Martha langsung menarik perhatian saya.
Bukan semata-mata karena beliau memulai dari tempat kecil.
Tetapi karena dari tempat itulah sebuah perjalanan bisnis benar-benar dimulai.
Garasi tidak membuat sebuah bisnis menjadi besar. Tetapi sebuah bisnis tidak harus menunggu tempat yang besar untuk mulai membangun sesuatu yang berarti.
Ternyata, Steve Jobs Juga Punya Cerita Garasi. Tetapi Ada yang Menarik.
Ketika membaca sejarah awal Ibu Martha, saya jadi teringat cerita Steve Jobs dan Steve Wozniak.
Hampir semua orang yang mengikuti perjalanan Apple pernah mendengar kisah garasi rumah keluarga Jobs di Los Altos, California.
Cerita populernya kira-kira begini.
Dua anak muda membuat komputer di sebuah garasi.
Komputernya berhasil.
Lalu lahirlah Apple, perusahaan yang kemudian mengubah industri teknologi dunia.
Cerita yang indah.
Tetapi ternyata sejarahnya tidak sesederhana itu.
Dalam wawancara dengan Link Journal pada 2013, Steve Wozniak menjelaskan bahwa pekerjaan desain dan rekayasa komputer Apple pada masa awal tidak dilakukan di garasi keluarga Jobs.
Pekerjaan tersebut banyak berlangsung di tempat lain, termasuk apartemennya dan lingkungan kerjanya di Hewlett-Packard.
Garasi keluarga Jobs memang digunakan dalam kegiatan awal Apple, antara lain untuk memeriksa, memperbaiki, dan mengemas papan komputer.
Jadi garasinya punya peran.
Tetapi bukan tempat seluruh inovasi Apple lahir seperti yang sering kita bayangkan.
Nah, ini menarik.
Karena kita ternyata bisa begitu menyukai sebuah cerita sampai bagian yang paling dramatis terasa lebih penting daripada kenyataannya.
Kita membayangkan garasi sebagai tempat lahirnya ide besar.
Padahal yang membuat Apple berkembang bukanlah garasinya.
Ada pengetahuan teknik Wozniak, kemampuan bisnis Jobs, produk yang mereka kembangkan, mitra yang terlibat, dan berbagai keputusan yang diambil setelahnya.
Garasi hanya salah satu tempat dalam perjalanan itu.
Dan semakin saya membaca kisah perusahaan-perusahaan lain, semakin jelas bahwa setiap garasi memiliki cerita yang berbeda.
Garasi HP, Google, dan Amazon Ternyata Tidak Sama
Mari kita lihat Hewlett-Packard.
Pada 1938, Bill Hewlett dan Dave Packard menggunakan sebuah garasi di Palo Alto untuk mengembangkan perangkat elektronik.
Perusahaan mereka kemudian berdiri pada 1939.
Garasi tersebut menjadi bagian penting dari sejarah Silicon Valley dan dikenal sebagai salah satu simbol awal berkembangnya industri teknologi di kawasan itu.
Di sana, garasi benar-benar berfungsi sebagai tempat kerja teknis.
Lalu Google.
Larry Page dan Sergey Brin mengembangkan mesin pencari mereka ketika masih berada di Stanford University.
Pada 1998, setelah memperoleh pendanaan awal, mereka menggunakan garasi milik Susan Wojcicki di Menlo Park sebagai kantor pertama Google.
Jadi Google tidak pertama kali menemukan ide mesin pencarinya di garasi.
Garasi menjadi tempat mereka melanjutkan pekerjaan yang sudah dimulai sebelumnya.
Ada pula Amazon.
Jeff Bezos memulai perusahaan itu pada 1994 dengan rumahnya di Bellevue, Washington, sebagai basis awal kegiatan bisnis.
Amazon kemudian meluncurkan toko buku daringnya pada 1995.
Salah satu cerita yang terkenal dari masa awal Amazon adalah penggunaan meja kerja sederhana yang dibuat dari pintu murah.
Bukan meja kantor mewah.
Hanya cara praktis untuk menyediakan tempat bekerja dengan biaya rendah.
Cerita meja dari pintu itu kemudian menjadi simbol penghematan sumber daya dalam budaya Amazon.
Sekarang coba kita bandingkan semuanya.
Garasi HP digunakan untuk mengembangkan perangkat elektronik.
Garasi Apple membantu kegiatan pemeriksaan dan pengemasan komputer.
Garasi Google menjadi kantor pertama.
Garasi Amazon menjadi bagian dari operasi awal bisnis daring.
Sementara garasi Ibu Martha Tilaar menjadi tempat melayani pelanggan salon.
Lima perjalanan.
Lima konteks yang berbeda.
Tetapi kita sering merangkumnya dalam satu kalimat:
Perusahaan besar dimulai dari garasi.
Kalimat itu tidak sepenuhnya salah.
Tetapi juga tidak cukup untuk menjelaskan mengapa perusahaan-perusahaan tersebut berkembang.
Karena ternyata, yang mereka bangun di dalam garasi bukanlah hal yang sama.
Ada yang membangun teknologi.
Ada yang menjalankan operasi bisnis.
Ada yang mempersiapkan produk untuk pelanggan.
Dan ada seorang perempuan Indonesia yang mulai melayani orang-orang yang ingin merawat kecantikannya.
Dari sudut pandang brand, perbedaan itu justru lebih menarik daripada kesamaan tempatnya.
Yang menentukan arah sebuah bisnis bukan tempat pertama ia berdiri, melainkan pekerjaan dan kemampuan yang mulai dibangun di sana.
Jangan-Jangan Kita Terlalu Romantis dengan Cerita Garasi
Saya mulai memahami mengapa kisah garasi begitu disukai.
Ceritanya memberikan harapan.
Bahwa untuk memulai bisnis, kita tidak harus memiliki semuanya.
Bahwa sesuatu yang kecil bisa berkembang menjadi jauh lebih besar.
Bahwa sebuah gagasan tidak harus lahir dari kantor mewah.
Saya setuju.
Tetapi ada satu hal yang sering hilang dari cerita tersebut.
Tidak semua bisnis yang dimulai dari garasi berhasil.
Dan tidak semua perusahaan besar pernah memulai dari garasi.
Jadi garasi jelas bukan formula kesuksesan.
Ada banyak hal yang tidak terlihat dalam foto-foto garasi terkenal itu.
Pengetahuan para pendirinya.
Pengalaman yang mereka miliki.
Kemampuan teknis.
Hubungan dengan pelanggan dan mitra.
Akses terhadap sumber daya.
Dan keputusan-keputusan yang mereka ambil sepanjang perjalanan.
Kalau kita hanya mengambil kisah garasinya, kita justru kehilangan pelajaran yang jauh lebih penting.
Seolah-olah memulai dari tempat sederhana otomatis membuat seseorang lebih kreatif, lebih gigih, atau lebih mungkin berhasil.
Padahal tidak.
Keterbatasan sumber daya bisa mendorong seseorang mencari cara baru.
Tetapi keterbatasan juga bisa membuat pekerjaan menjadi lebih sulit.
Garasi tidak otomatis membuat keputusan bisnis menjadi benar.
Kita tetap bisa salah memahami pasar.
Tetap bisa membuat produk yang tidak dibutuhkan.
Tetap bisa mengelola bisnis dengan buruk.
Dan tetap bisa gagal.
Karena itu, saya tidak ingin menjadikan garasi sebagai simbol ajaib kewirausahaan.
Saya lebih tertarik melihat apa yang dilakukan orang-orang ketika mereka memulai dari sana.
Dalam kasus Ibu Martha Tilaar, aktivitas awalnya adalah salon.
Artinya, beliau memulai dari sebuah layanan yang berhubungan langsung dengan manusia.
Dan bagi saya, justru itulah bagian yang menarik ketika kisah ini dibaca melalui kacamata brand.
Sebuah Garasi Bisa Mengajarkan Banyak Hal tentang Brand
Dalam pekerjaan saya sebagai brand consultant, ada satu kebiasaan yang sering saya temukan.
Ketika seseorang ingin membangun bisnis, perhatian awalnya sering tertuju pada bagaimana bisnis itu akan terlihat.
Nama brand-nya apa?
Logonya seperti apa?
Kantornya bagaimana?
Website-nya harus terlihat premium atau modern?
Presentasinya sudah cukup meyakinkan atau belum?
Semua itu penting.
Saya sendiri bekerja dalam bidang yang memahami betapa besar pengaruh identitas, komunikasi, dan persepsi terhadap sebuah brand.
Tetapi ada satu pertanyaan yang kadang datang belakangan.
Sebenarnya, kemampuan apa yang sedang kita bangun?
Karena sebuah bisnis bisa terlihat profesional jauh sebelum kemampuannya benar-benar matang.
Kantornya bagus.
Identitas visualnya menarik.
Presentasinya meyakinkan.
Tetapi produknya belum cukup teruji.
Layanannya belum konsisten.
Timnya belum siap.
Atau kebutuhan konsumennya belum benar-benar dipahami.
Saya tidak sedang mengatakan bahwa semua bisnis yang dimulai dari kantor bagus pasti memiliki masalah tersebut.
Tentu tidak.
Yang saya persoalkan adalah ketika penampilan dianggap sebagai pengganti kemampuan.
Padahal keduanya memiliki pekerjaan yang berbeda.
Identitas dan komunikasi membantu orang mengenali serta memahami sebuah bisnis.
Sementara kualitas produk, layanan, manusia, dan sistem menentukan apakah bisnis itu mampu memenuhi harapan yang sudah dibangun.
Kalau kita kembali ke kisah Ibu Martha Tilaar, yang menarik bukanlah apakah garasinya terlihat seperti sebuah salon profesional.
Yang menarik adalah bahwa dari tempat sederhana tersebut, beliau mulai menjalankan pekerjaan nyata: melayani pelanggan.
Dari situ kemudian berkembang salon, pendidikan kecantikan, produk, manufaktur, dan berbagai kegiatan lain dalam perjalanan Martha Tilaar Group.
Saya tentu tidak akan mengklaim bahwa seluruh perkembangan tersebut sudah dirancang sejak hari pertama.
Sejarah bisnis jarang sesederhana itu.
Tetapi urutannya memberi kita bahan refleksi yang kuat.
Bahwa sebelum sebuah perusahaan memiliki banyak hal untuk ditampilkan, ia harus mulai melakukan sesuatu yang memiliki nilai bagi orang lain.
Jangan sampai kita lebih sibuk membangun tempat yang membuat bisnis terlihat berhasil, daripada membangun kemampuan yang membuat bisnis benar-benar bekerja.
Ketika Ruang Kerja Menjadi Simbol Kesuksesan
Ada hal lain yang menarik dari cerita garasi.
Pada masa awal membangun bisnis, kita sering menggunakan apa yang tersedia.
Ruang seadanya.
Peralatan yang ada.
Meja yang mungkin bukan dirancang khusus untuk bekerja.
Semuanya digunakan karena pekerjaan harus berjalan.
Tetapi ketika bisnis mulai berkembang, kebutuhan juga berubah.
Kita memerlukan fasilitas yang lebih baik.
Ruang yang lebih layak.
Sistem kerja yang lebih tertata.
Lingkungan yang aman dan nyaman bagi orang-orang yang bekerja.
Itu perkembangan yang wajar.
Bahkan sering kali memang diperlukan.
Saya tidak pernah berpikir bahwa founder harus selamanya bekerja di garasi supaya tetap rendah hati atau kreatif.
Itu justru romantisasi yang tidak perlu.
Namun, ada perbedaan menarik antara menggunakan tempat sederhana karena belum punya banyak pilihan dan memilih kesederhanaan ketika sebenarnya sudah punya pilihan.
Dulu saya memulai bisnis dari garasi karena itulah bagian dari kondisi awal usaha.
Sekarang, ketika saya masih suka bekerja di garasi, alasannya berbeda.
Saya menyukai suasananya.
Ada rasa bebas untuk berpikir dan mengerjakan sesuatu tanpa harus selalu berada dalam suasana formal.
Tentu itu pengalaman pribadi saya.
Saya tidak punya alasan untuk menganggap semua orang akan berpikir lebih baik ketika berada di garasi.
Ada orang yang justru membutuhkan kantor yang tenang dan terstruktur.
Ada yang menemukan ide terbaiknya ketika berjalan kaki.
Ada yang suka bekerja di perpustakaan.
Dan ada yang lebih nyaman di meja kerjanya sendiri.
Tidak ada tempat yang paling benar untuk semua orang.
Tetapi ada satu pertanyaan yang menurut saya relevan bagi seorang founder.
Apakah lingkungan kerja kita dipilih karena benar-benar membantu pekerjaan?
Atau karena kita ingin terlihat seperti gambaran seorang pebisnis yang sukses?
Kadang jawabannya sama.
Kadang tidak.
Dan ketika dua hal itu berbeda, kita perlu cukup jujur untuk menyadarinya.
Garasi Bukan Tempat Ide Besar. Garasi Adalah Tempat Ide Diuji.
Ada satu pelajaran yang menurut saya cukup menarik dari berbagai kisah garasi tersebut.
Banyak orang membicarakan ide.
Ide bisnis.
Ide produk.
Ide teknologi.
Ide brand.
Tetapi ide saja belum cukup.
Pada suatu titik, ide harus bertemu dengan kenyataan.
Perangkat elektronik harus bisa bekerja.
Komputer harus bisa digunakan.
Mesin pencari harus memberikan hasil yang berguna.
Toko daring harus bisa menerima dan memenuhi pesanan.
Dan sebuah salon harus mampu melayani pelanggan dengan baik.
Di situlah pekerjaan yang sebenarnya dimulai.
Saya membayangkan betapa berbeda perjalanan Ibu Martha Tilaar jika salon pertamanya hanya berhenti sebagai sebuah ide.
Sebuah rencana.
Sebuah konsep bisnis yang indah di atas kertas.
Tetapi tidak pernah benar-benar dibuka.
Tentu kita tidak bisa mengetahui bagaimana sejarah akan berjalan dalam keadaan yang berbeda.
Namun, satu hal jelas: salon itu benar-benar dijalankan.
Ada pelanggan yang dilayani.
Ada pekerjaan yang dilakukan.
Dan perjalanan bisnis kemudian berkembang melalui berbagai tahap.
Dalam dunia brand, saya sering menemukan orang yang begitu jatuh cinta pada konsep bisnisnya sendiri.
Presentasinya sangat bagus.
Nama brand-nya sudah dipikirkan dengan matang.
Konsep produknya menarik.
Strateginya terlihat meyakinkan.
Tetapi ketika ditanya apakah gagasan tersebut sudah bertemu dengan kebutuhan konsumen yang nyata, jawabannya belum tentu jelas.
Kita sering ingin membangun sesuatu yang hebat.
Padahal sebelum itu, kita perlu memahami apakah sesuatu tersebut memang layak dibangun.
Inilah mengapa saya selalu kembali pada prinsip Understand Before You Build.
Bukan berarti kita harus mengetahui semua jawaban sebelum memulai.
Tidak mungkin.
Tetapi kita perlu memahami persoalan yang sedang kita coba selesaikan, siapa yang akan merasakan manfaatnya, dan bukti apa yang mendukung keputusan awal kita.
Setelah itu, barulah kita membangun, menguji, belajar, dan memperbaiki.
Karena dalam bisnis, ide yang terlihat hebat belum tentu menjadi solusi yang berguna.
Dan solusi yang berguna tidak selalu lahir dari ide yang terlihat spektakuler.
Garasi bukan tempat untuk membuktikan bahwa ide kita hebat. Ia mengingatkan bahwa ide kita masih harus bertemu dengan kenyataan.
Ketika Bisnis Membesar, Apa yang Sebaiknya Tidak Ikut Hilang?
Ada satu paradoks dalam pertumbuhan bisnis yang sering saya pikirkan.
Ketika bisnis masih kecil, kita biasanya harus belajar banyak hal.
Mendengarkan pelanggan.
Memperbaiki pekerjaan.
Mencari cara yang lebih efisien.
Mencoba sesuatu yang belum pernah dilakukan.
Tetapi ketika bisnis mulai besar, kadang justru muncul godaan untuk terlalu nyaman dengan cara yang sudah ada.
Kita memiliki lebih banyak prosedur.
Lebih banyak rapat.
Lebih banyak lapisan keputusan.
Dan terkadang, lebih banyak alasan mengapa sesuatu tidak bisa dicoba.
Tentu organisasi yang besar memang membutuhkan sistem.
Tanpa sistem, pertumbuhan justru bisa merusak kualitas.
Tetapi sistem yang baik seharusnya membantu organisasi berpikir dan bekerja lebih baik.
Bukan membuatnya berhenti belajar.
Karena itu, menurut saya, ada sesuatu yang perlu dipertahankan ketika sebuah bisnis berkembang.
Bukan garasinya.
Bukan keterbatasan fasilitasnya.
Bukan suasana seadanya.
Melainkan kebiasaan untuk terus bertanya.
Apakah cara kita masih relevan?
Apakah pelanggan masih membutuhkan apa yang kita tawarkan?
Apakah ada sesuatu yang bisa dilakukan dengan lebih baik?
Apakah kita sedang mempertahankan keputusan karena memang masih tepat, atau hanya karena sudah terlalu lama melakukannya?
Pertanyaan-pertanyaan itu mungkin terdengar sederhana.
Tetapi justru semakin besar sebuah organisasi, semakin mudah keberhasilan masa lalu membuat kita merasa sudah memiliki semua jawabannya.
Padahal belum tentu.
Saya tidak tahu seluruh proses internal yang dilalui Martha Tilaar Group sepanjang sejarahnya.
Tetapi dari perjalanan bisnis yang terdokumentasi, kita dapat melihat bahwa usaha yang bermula dari salon kecil kemudian berkembang ke berbagai bidang yang membutuhkan kemampuan berbeda.
Dan itu mengingatkan saya bahwa pertumbuhan bisnis bukan sekadar menambah ukuran.
Pertumbuhan juga menuntut kemampuan baru.
Bisnis boleh tumbuh meninggalkan garasi. Tetapi jangan sampai pertumbuhannya membuat kita meninggalkan rasa ingin tahu yang dulu membantu bisnis itu berkembang.
Kembali ke Garasi Ibu Martha Tilaar
Setelah membaca kisah Apple, Hewlett-Packard, Google, dan Amazon, saya justru ingin kembali ke sebuah garasi di Menteng pada 1970.
Garasi tempat Ibu Martha Tilaar memulai salon kecilnya.
Bukan karena kisah itu harus dibandingkan dengan perusahaan-perusahaan teknologi dunia.
Dan bukan pula karena semua perjalanan tersebut memiliki pola yang sama.
Justru perbedaannya yang menarik.
Di Silicon Valley, kita melihat garasi yang digunakan untuk mengembangkan perangkat elektronik, menjalankan kegiatan komputer, atau membangun perusahaan internet.
Sementara di Jakarta, seorang perempuan Indonesia memulai perjalanan bisnis kecantikannya dengan melayani pelanggan.
Tidak ada komputer revolusioner.
Tidak ada mesin pencari.
Tidak ada toko daring.
Ada sebuah salon.
Dan dari perjalanan itulah kemudian lahir berbagai produk, layanan, kegiatan pendidikan, dan usaha lain yang menjadi bagian dari sejarah industri kecantikan Indonesia.
Sebagai orang yang pernah bersentuhan secara profesional dengan sebagian perjalanan brand dalam ekosistem Martha Tilaar melalui pekerjaan komunikasi kreatif, saya memiliki ketertarikan tersendiri untuk membaca kembali sejarah beliau.
Apalagi ketika pengalaman pribadi saya dan istri juga memiliki titik awal yang serupa: garasi.
Tetapi setelah memikirkan semua cerita ini, saya merasa makna garasi bukan terletak pada kesamaan tempatnya.
Melainkan pada kenyataan bahwa sesuatu yang berarti bisa mulai dibangun sebelum semuanya terlihat besar.
Dan mungkin itulah pelajaran yang ingin saya bawa dari perjalanan awal Ibu Martha Tilaar.
Kita tidak harus menunggu kantor yang sempurna untuk mulai bekerja.
Tidak harus menunggu seluruh fasilitas tersedia untuk mulai belajar.
Tidak harus menunggu brand terlihat besar untuk mulai memberikan nilai kepada orang lain.
Tetapi kita juga tidak boleh berhenti pada romantisasi kesederhanaan.
Karena setelah memulai, pekerjaan yang jauh lebih panjang menunggu.
Membangun kemampuan.
Memahami pelanggan.
Menjaga kualitas.
Mengembangkan orang-orang yang bekerja bersama kita.
Dan terus membuat keputusan yang memungkinkan bisnis bertumbuh.
Saya tidak tahu apakah Ibu Martha pernah membayangkan seberapa jauh perjalanan bisnisnya akan berkembang ketika membuka salon kecil itu.
Tetapi saya tahu bahwa sejarahnya tidak berhenti di garasi.
Dan justru itulah yang membuat cerita ini berharga.
Bukan karena garasi tersebut kemudian menjadi bagian dari sejarah sebuah perusahaan besar.
Melainkan karena ada pekerjaan nyata yang dimulai di sana, lalu diteruskan dan dikembangkan selama bertahun-tahun.
Dulu saya memulai bisnis dari garasi.
Istri saya juga.
Dan sampai sekarang, garasi masih menjadi salah satu tempat favorit saya untuk bekerja.
Mungkin karena tempat itu mengingatkan saya pada sesuatu yang sederhana.
Bahwa dalam membangun bisnis, kita tidak harus selalu terlihat sedang melakukan sesuatu yang besar.
Kita hanya perlu memastikan bahwa apa yang kita kerjakan benar-benar memiliki arti.
Kita boleh meninggalkan garasi ketika bisnis berkembang. Tetapi jangan meninggalkan keberanian untuk terus belajar, mencoba, dan memahami manusia yang ingin kita layani.
Terima kasih, Ibu Martha Tilaar.
Dari sebuah garasi kecil di Menteng, perjalanan Ibu kembali mengingatkan saya bahwa yang membuat sebuah bisnis berarti bukanlah seberapa megah tempat ia dimulai.
Melainkan apa yang berhasil dibangun dari sana.
Sumber dan Referensi
Tulisan ini memadukan sejarah perusahaan yang terdokumentasi, pengalaman pribadi penulis, dan refleksi profesional tentang brand. Analisis serta pelajaran yang ditarik merupakan pandangan Kang Wendra, bukan pernyataan langsung Ibu Martha Tilaar atau para pendiri perusahaan yang disebutkan.
