Warisan Ibu Martha Tilaar yang Membuat Saya Menulis Buku

Warisan Ibu Martha Tilaar yang Membuat Saya Menulis Buku

TRIBUTE TO IBU MARTHA TILAAR — SERI 05

Dari pengalaman mengerjakan proyek kreatif Martha Tilaar Group hingga menulis buku sendiri, sebuah refleksi tentang pengetahuan, pengalaman, dan warisan pemikiran yang tidak berhenti pada satu generasi.

Oleh Wendra Wilendra, M.MT. (Kang Wendra)

Brand & AI Architect

Ada satu masa ketika pekerjaan saya banyak dihabiskan untuk menerjemahkan gagasan bisnis menjadi komunikasi kreatif.

Mengembangkan konsep kampanye. Menentukan pendekatan visual. Menyusun alur cerita. Membuat storyboard. Mengolah informasi produk menjadi materi promosi, presentasi, hingga produksi audiovisual.

Di dunia creative agency, pekerjaan seperti itu menuntut lebih dari sekadar kemampuan membuat sesuatu terlihat menarik.

Kita harus memahami karakter sebuah brand, pesan yang ingin disampaikan, siapa yang akan menerimanya, dan bagaimana seluruh elemen kreatif bekerja bersama untuk membentuk persepsi yang tepat.

Salah satu pengalaman yang cukup membekas datang ketika saya mengerjakan berbagai proyek untuk brand-brand Martha Tilaar Group.

Dari Sariayu, Biokos, hingga sejumlah brand lainnya.

Melalui proses kreatif tersebut, saya belajar melihat bagaimana sebuah perusahaan mengelola identitas, pengetahuan produk, dan cerita brand melalui berbagai bentuk komunikasi.

Namun, ada satu sisi dari perjalanan Ibu Martha Tilaar yang pada masa itu justru membuat saya bertanya-tanya.

Bukan tentang kosmetik.

Bukan tentang kampanye.

Bukan pula tentang bagaimana membangun sebuah brand.

Melainkan tentang buku.

Dulu saya pernah bertanya-tanya.

Untuk apa seorang pengusaha yang sudah begitu sibuk masih meluangkan waktu menulis buku?

Bukankah ada banyak hal lain yang lebih mendesak?

Mengembangkan bisnis.

Mengurus perusahaan.

Menciptakan produk.

Menghadapi persaingan.

Apalagi menulis buku bukan pekerjaan sederhana.

Ada waktu yang harus disisihkan. Pengalaman yang perlu diingat kembali. Gagasan yang harus disusun. Dan pemikiran yang harus diperiksa sebelum akhirnya dituangkan menjadi tulisan.

Kalau dihitung dengan logika bisnis yang sangat praktis, hasil penjualan buku mungkin tidak sebanding dengan waktu seorang pengusaha yang sudah memiliki begitu banyak tanggung jawab.

Pertanyaan itu pernah muncul ketika saya melihat Ibu Martha Tilaar dan buku-bukunya.

Bukan karena saya menganggap buku tidak penting.

Tetapi karena saat itu, saya belum sepenuhnya memahami mengapa seseorang yang telah membangun bisnis besar masih merasa perlu menuliskan pengetahuan dan pengalamannya.

Bertahun-tahun kemudian, pertanyaan tersebut justru kembali kepada saya.

Ketika saya sendiri mulai menulis buku.

Dan baru menyadari bahwa mungkin sejak awal saya menggunakan ukuran yang keliru.

Saya menilai buku dari apa yang bisa dihasilkannya hari ini.

Padahal ada sesuatu yang jauh lebih penting.

Berapa banyak pengetahuan yang akan hilang jika orang-orang yang memilikinya tidak pernah bersedia menuliskannya?


Buku-Buku Ibu Martha Ternyata Menceritakan Sesuatu yang Lebih Besar

Ketika melihat kembali karya-karya yang berkaitan dengan Ibu Martha Tilaar, saya menemukan satu hal yang menarik.

Topiknya tidak berhenti pada produk kecantikan.

Ada budaya.

Ada tradisi.

Ada jamu.

Ada kepemimpinan.

Ada pengalaman membangun usaha.

Dan ada pemikiran tentang perempuan Indonesia.

Dalam Indonesia Bersolek, misalnya, seni rias Indonesia diperlakukan sebagai sesuatu yang memiliki kekayaan tradisi dan pengetahuan.

Dalam Kecantikan Perempuan Timur, kecantikan dibicarakan melalui pandangan hidup, tradisi, dan praktik perawatan yang hidup dalam budaya Timur dan Nusantara.

Melalui The Power of Jamu, perhatian terhadap kekayaan jamu dan bahan alam bergerak melampaui cerita produk, menuju hubungan antara tradisi, pengetahuan, dan pengembangannya.

Sementara karya seperti Leadership Quotient: Perempuan Pemimpin Indonesia, yang dikaitkan dengan Ibu Martha dan Wulan Tilaar Widarto, membawa pembicaraan ke wilayah kepemimpinan.

Saya melihat benang merah yang menarik.

Kecantikan tidak hanya diperlakukan sebagai urusan penampilan.

Ia juga berhubungan dengan budaya, pengetahuan, identitas, industri, dan manusia.

Dan ketika gagasan seperti itu dituliskan, ia memperoleh kehidupan yang berbeda dari sebuah kampanye.

Kampanye memiliki masa tayang.

Produk memiliki siklus hidup.

Tren dapat berganti.

Tetapi sebuah buku masih dapat ditemukan dan dibaca ketika konteks yang melahirkannya sudah berubah.

Bukan berarti seluruh isi buku akan selalu relevan selamanya.

Pengetahuan ilmiah berkembang. Pemahaman budaya juga dapat berubah. Beberapa gagasan perlu dibaca kembali dengan konteks yang lebih baru.

Namun, buku memungkinkan gagasan tersebut tetap tersedia untuk diperiksa, dipelajari, bahkan diperdebatkan.

Sebuah buku tidak membuat pemikiran menjadi abadi karena selalu benar. Buku membuat pemikiran memiliki kesempatan untuk terus diuji.

Dan menurut saya, itu merupakan bentuk kontribusi yang tidak kecil.


Menulis Buku dan Menjadi Subjek Sebuah Buku Adalah Dua Warisan yang Berbeda

Ada hal lain yang menarik dari perjalanan Ibu Martha.

Selain karya yang ditulis atau dikembangkan bersama beliau, terdapat buku-buku yang ditulis orang lain mengenai kehidupannya.

Martha dan Ratna: Dua Perempuan di Balik Sukses Martha Tilaar Group menghadirkan kisah dua perempuan di balik perjalanan bisnis kelompok usaha tersebut.

Sementara Martha Tilaar: Potret Perempuan Pembangun Ekosistem Kewirausahaan, karya Dr. Kurnianing Isololipu, membahas peran Ibu Martha dalam konteks kewirausahaan.

Ada pula buku biografis karya Ayu Hermawan yang mendokumentasikan perjalanan Ibu Martha sebagai perempuan entrepreneur.

Bagi saya, kedua bentuk buku tersebut memiliki nilai yang berbeda.

Buku yang ditulis seseorang memberi kesempatan kepada pembaca untuk mengenal gagasan yang ingin disampaikan penulisnya.

Sementara buku yang ditulis orang lain tentang seseorang memberi kesempatan untuk melihat perjalanan tersebut melalui sudut pandang yang berbeda.

Yang satu mendokumentasikan pemikiran.

Yang lain membantu mendokumentasikan perjalanan dan pengaruhnya.

Keduanya tidak boleh disamakan dari sisi kepengarangan.

Namun, keduanya memperlihatkan sesuatu yang penting.

Ketika perjalanan seseorang memiliki makna bagi orang lain, pengalaman tersebut dapat berkembang menjadi pengetahuan yang tidak lagi hanya dimiliki oleh orang yang menjalaninya.

Dan semakin banyak sudut pandang yang tersedia, semakin besar pula kesempatan bagi generasi berikutnya untuk memahami perjalanan tersebut secara lebih utuh.


Pengalaman Tidak Otomatis Menjadi Pengetahuan

Ada satu hal yang semakin saya pahami setelah bertahun-tahun bekerja.

Memiliki banyak pengalaman tidak otomatis berarti kita telah memahami seluruh pelajaran dari pengalaman tersebut.

Seorang pengusaha bisa mengambil ribuan keputusan.

Sebagian berhasil.

Sebagian gagal.

Ada keputusan yang awalnya terasa benar tetapi kemudian perlu diubah.

Ada juga keputusan kecil yang ternyata membawa konsekuensi besar.

Semua itu menghasilkan pengalaman.

Tetapi pengalaman sering kali hanya tersimpan dalam ingatan.

Kita tahu apa yang pernah dilakukan.

Namun, belum tentu pernah benar-benar menjelaskan mengapa kita melakukannya.

Apa asumsi yang digunakan?

Apa yang ternyata keliru?

Informasi apa yang mengubah keputusan?

Dan pelajaran apa yang masih dapat digunakan ketika situasinya berbeda?

Menulis memaksa pertanyaan-pertanyaan itu muncul.

Sesuatu yang terasa begitu jelas di kepala bisa menjadi sulit dijelaskan ketika harus dituliskan.

Kadang kita menemukan bahwa gagasan yang selama ini diyakini ternyata memiliki bagian yang belum selesai.

Argumennya belum konsisten.

Buktinya belum cukup.

Atau kesimpulannya terlalu luas dibandingkan pengalaman yang menjadi dasarnya.

Karena itu, saya mulai melihat menulis sebagai bagian dari proses memahami.

Bukan sekadar menyampaikan.

Pengalaman memberi kita bahan untuk berpikir. Menulis memaksa kita memeriksa apakah pemikiran itu benar-benar memiliki dasar.

Dan semakin saya menulis, semakin saya merasakan bahwa proses tersebut tidak selalu mudah.

Tetapi justru di situlah nilainya.


Ketika Saya Sendiri Mulai Menulis Buku

Perjalanan profesional saya membawa saya melewati berbagai persoalan.

Dari komunikasi kreatif, strategi brand, pengembangan bisnis, hingga teknologi dan AI.

Pada awalnya, bidang-bidang itu terlihat seperti pekerjaan yang berbeda.

Tetapi semakin lama saya menjalaninya, semakin banyak hubungan yang saya temukan.

Sebuah brand bisa memiliki komunikasi yang menarik, tetapi tidak cukup memahami apa yang membuatnya berbeda.

Sebuah perusahaan bisa memiliki teknologi yang canggih, tetapi belum tentu memahami persoalan yang sebenarnya perlu diselesaikan.

Sebuah bisnis bisa mengumpulkan banyak data, tetapi tetap kesulitan mengambil keputusan yang tepat.

Dan sekarang, AI membuat manusia semakin mudah menghasilkan jawaban.

Namun, jawaban yang cepat tidak selalu berasal dari pemahaman yang benar.

Pengalaman-pengalaman itulah yang perlahan mendorong saya untuk mulai menyusun pemikiran secara lebih utuh.

Tidak cukup hanya disampaikan dalam percakapan.

Tidak cukup hanya menjadi materi presentasi.

Tidak cukup pula hanya menjadi konten singkat yang selesai ketika perhatian orang berpindah ke topik berikutnya.

Ada gagasan yang membutuhkan ruang lebih panjang.

Ada persoalan yang tidak dapat dijelaskan hanya melalui beberapa kalimat.

Dan ada hubungan antargagasan yang baru terlihat ketika semuanya disusun menjadi satu pemikiran yang lebih besar.

Di situlah buku mulai memperoleh makna berbeda bagi saya.

Bukan sebagai tanda bahwa saya telah mengetahui segalanya.

Justru sebagai tempat untuk menyusun apa yang saya pahami, menjelaskan apa yang masih memiliki batasan, dan membuka pemikiran tersebut agar dapat diperiksa orang lain.

Karena buku bukan sekadar kumpulan tulisan.

Buku menuntut gagasan yang memiliki hubungan.

Memiliki arah.

Memiliki alasan.

Dan memiliki tanggung jawab.

Kalau sebuah gagasan hanya terdengar pintar ketika kita sendiri yang menjelaskannya, mungkin gagasan itu belum cukup matang untuk dituliskan sebagai pengetahuan.


Buku-Buku yang Saya Tulis

Seiring perjalanan tersebut, saya mulai menempatkan buku sebagai bagian penting dari pekerjaan intelektual saya.

Buku menjadi ruang untuk mengembangkan pemikiran mengenai brand, bisnis, AI, dan cara manusia memahami persoalan sebelum mengambil keputusan.

Bukan semua gagasan harus menjadi buku.

Sebagian cukup menjadi artikel.

Sebagian berkembang menjadi pembahasan atau materi pembelajaran.

Namun, ada gagasan yang memerlukan struktur lebih utuh agar dapat dipahami secara mendalam.

Di situlah buku memiliki perannya.

Bagi saya, menulis bukan tentang memperbanyak jumlah judul.

Melainkan tentang memastikan bahwa pengalaman dan pemikiran yang telah dibangun memiliki bentuk yang dapat digunakan orang lain.

Buku-buku dan karya intelektual saya dapat dibaca lebih lanjut melalui halaman Books & IP — Kang Wendra.

Halaman tersebut menjadi tempat untuk mengenal gagasan, hubungan antarkarya, serta perkembangan pemikiran yang saya dokumentasikan melalui buku dan karya intelektual lainnya.


Di Era AI, Mengapa Menulis Buku Masih Penting?

Sekarang pertanyaan tentang menulis buku menjadi semakin menarik.

AI dapat membantu membuat outline.

Merangkum penelitian.

Membandingkan teori.

Menyusun kalimat.

Bahkan membantu menghasilkan naskah panjang dalam waktu yang jauh lebih singkat.

Lalu, apa yang masih membuat sebuah buku bernilai?

Menurut saya, jawabannya bukan semata-mata pada seberapa sulit buku tersebut ditulis.

Tetapi pada apa yang sebenarnya dibawa oleh penulisnya.

Pengalaman apa yang menjadi dasar pemikirannya?

Pertanyaan apa yang ingin dijawab?

Bagaimana ia menilai evidence?

Apa batasan kesimpulannya?

Dan apakah ia bersedia mempertanggungjawabkan gagasan tersebut?

AI dapat membantu proses penyusunan pengetahuan.

Tetapi kemudahan menghasilkan tulisan tidak otomatis menghasilkan pemikiran yang bernilai.

Justru ketika semakin banyak tulisan dapat diproduksi dengan cepat, asal-usul gagasan, ketepatan atribusi, dan kualitas penilaian menjadi semakin penting.

Saya tidak melihat AI sebagai lawan dari kegiatan menulis.

AI dapat membantu penulis berpikir, menguji struktur argumentasi, dan menemukan kelemahan penjelasannya.

Tetapi penulis tetap perlu menentukan apa yang benar-benar ingin disampaikan dan mengapa hal itu layak disampaikan.

Dalam pekerjaan saya sekarang, prinsip Understand Before You Build menjadi semakin relevan.

Termasuk ketika menulis buku.

Pahami gagasannya sebelum menyusunnya menjadi bab.

Pahami sumbernya sebelum mengutipnya.

Pahami batasannya sebelum menarik kesimpulan.

Dan pahami kebutuhan pembaca sebelum memutuskan apa yang perlu dijelaskan.

Karena menulis buku bukan sekadar menghasilkan halaman.

Melainkan membangun pemahaman yang dapat dipertanggungjawabkan.

AI bisa membantu kita menulis lebih cepat. Tetapi belum tentu membuat kita memiliki sesuatu yang lebih bernilai untuk ditulis.


Warisan Ibu Martha yang Baru Saya Pahami Belakangan

Ketika kembali memikirkan buku-buku Ibu Martha Tilaar, saya melihat sesuatu yang dahulu tidak sepenuhnya saya pahami.

Ibu Martha membangun perusahaan dan brand yang dikenal masyarakat.

Tetapi jejak pemikirannya juga hadir dalam karya-karya yang membicarakan kecantikan, budaya, jamu, kepemimpinan, dan pengalaman hidup.

Ada pengetahuan yang berusaha didokumentasikan.

Ada pengalaman yang tidak dibiarkan berhenti sebagai cerita pribadi.

Dan ada gagasan yang memperoleh kesempatan untuk terus dibaca oleh orang-orang yang bahkan mungkin tidak pernah bertemu langsung dengan beliau.

Saya tidak mengetahui seluruh alasan pribadi Ibu Martha ketika menulis setiap bukunya.

Saya juga tidak ingin mengklaim bahwa keputusan saya menulis buku berasal dari satu peristiwa atau percakapan tertentu dengan beliau.

Namun, ketika melihat kembali perjalanan profesional saya, pengaruh dari teladan semacam itu menjadi semakin terasa.

Dulu, saya melihat seorang pengusaha yang masih meluangkan waktu untuk menulis.

Sekarang, saya melihat pentingnya seorang pengusaha bersedia mengubah sebagian pengalamannya menjadi pengetahuan yang dapat dipelajari orang lain.

Dan ketika saya sendiri mulai menulis, pertanyaan yang dahulu pernah muncul justru memperoleh jawaban.

Bukan semua yang kita kerjakan harus langsung menghasilkan uang.

Bukan semua kontribusi harus berbentuk produk.

Dan bukan semua keberhasilan harus berakhir sebagai cerita tentang apa yang telah kita capai.

Ada pengalaman yang mungkin jauh lebih berguna ketika membantu orang lain memahami sesuatu yang sebelumnya tidak mereka pahami.

Ada kesalahan yang dapat menjadi pelajaran.

Ada keputusan yang dapat menjadi bahan refleksi.

Dan ada pemikiran yang nilainya justru bertambah ketika tidak lagi disimpan sendiri.


Terima Kasih, Ibu Martha

Seri tulisan ini membawa saya kembali kepada beberapa pelajaran yang saya temukan dari perjalanan bersama brand-brand Martha Tilaar Group.

Tentang strategi brand.

Tentang identitas Indonesia.

Tentang pentingnya klaim yang dapat dipertanggungjawabkan.

Tentang kemampuan inovasi yang harus dibangun, bukan hanya diceritakan.

Dan akhirnya, tentang pengetahuan yang layak diwariskan.

Dahulu saya berada di dunia yang membantu brand menyampaikan cerita.

Sekarang, saya semakin memahami bahwa di balik cerita yang kuat harus ada sesuatu yang benar-benar bernilai untuk disampaikan.

Dan sebagian dari nilai itu tidak seharusnya berhenti ketika sebuah kampanye selesai, produk berganti, atau seseorang tidak lagi berada di ruang yang sama.

Ia perlu didokumentasikan.

Diperiksa.

Dituliskan.

Agar orang lain dapat mempelajarinya.

Terima kasih, Ibu Martha.

Dulu saya bertanya mengapa Ibu masih meluangkan waktu menulis buku ketika sudah begitu sibuk membangun perusahaan.

Sekarang saya mulai mengerti.

Dan mungkin itulah salah satu bentuk warisan yang paling menarik.

Bukan ketika seseorang meminta kita mengikuti langkahnya.

Tetapi ketika perjalanan seseorang membuat kita memahami sesuatu yang akhirnya memengaruhi keputusan kita sendiri.

Karena tidak semua yang kita bangun harus menjadi perusahaan.

Sebagian perlu menjadi pengetahuan yang tetap hidup ketika kita sudah selesai bercerita.


Tentang Penulis

Wendra Wilendra, M.MT. (Kang Wendra)
Brand & AI Architect

Menghubungkan brand, manusia, dan AI untuk memahami bagaimana bisnis membangun makna, memperoleh kepercayaan, dan menjadi pilihan. Dari strategi hingga sistem cerdas, setiap langkah dimulai dengan memahami persoalan, konteks, dan keputusan yang benar-benar penting.

Understand Before You Build.


Referensi dan Bacaan Terkait

Karya yang dikaitkan dengan kepengarangan atau kolaborasi Ibu Martha Tilaar

  1. Indonesia Bersolek: Buku Pedoman Seni Rias Indonesia — edisi yang dirujuk tahun 1987 dan 1995. Informasi bibliografi awal: Tokoh.id.

  2. Kecantikan Perempuan Timur — tahun 1999 menurut daftar bibliografi yang tersedia. Referensi: Tokoh.id dan BukaBuku.

  3. Leadership Quotient: Perempuan Pemimpin Indonesia — 2003; atribusi kolaborator dan editor mengikuti data bibliografi yang diberikan. Referensi awal: Tokoh.id.

  4. The Power of Jamu — referensi Martha Tilaar Innovation Centre.

  5. Perkawinan Putriku: Inspirasi untuk Calon Pengantin — 2005 menurut daftar yang tersedia. Referensi: Martha Tilaar Library.

  6. Maximize Your Beauty: Panduan Menggali Kecantikan Luar Dalam — informasi bibliografi dan edisi perlu dikonfirmasi pada katalog penerbit atau perpustakaan.

Buku tentang Ibu Martha Tilaar yang ditulis pihak lain

  1. Martha dan Ratna: Dua Perempuan di Balik Sukses Martha Tilaar Group (2014). Referensi: Gramedia Pustaka Utama.

  2. Kurnianing Isololipu (2022). Martha Tilaar: Potret Perempuan Pembangun Ekosistem Kewirausahaan. Referensi: Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya.

  3. Ayu Hermawan. Doktor (HC) Martha Tilaar: Bagi Indonesia — Perjalanan Seorang Perempuan Entrepreneur Mengubah Mimpi Menjadi Nyata. Referensi awal: Universitas Ciputra Library.

Catatan editorial: Tahun, edisi, ISBN, serta peran penulis/editor beberapa buku perlu diverifikasi pada katalog penerbit atau perpustakaan sebelum publikasi final. Daftar ini merupakan bibliografi terkait, bukan pernyataan bahwa seluruh buku telah dibaca secara langsung oleh penulis artikel.

Artikel Terkait