Martha Tilaar dan Marketing in Venus: Pelajaran yang Tidak Pernah Berhenti di Balik Kamera

Martha Tilaar dan Marketing in Venus: Pelajaran yang Tidak Pernah Berhenti di Balik Kamera

TRIBUTE TO IBU MARTHA TILAAR — SERI 08

Saya pernah mendapat kesempatan menerjemahkan pemikiran Pak Hermawan Kartajaya dan praktik bisnis Ibu Martha Tilaar menjadi sebuah serial televisi. Bertahun-tahun kemudian, saya menyadari bahwa pekerjaan itu bukan hanya menghasilkan sebuah program. Ia ikut membentuk cara saya memahami marketing, brand, bisnis, dan manusia.

Oleh Wendra Wilendra, M.MT. (Kang Wendra)
Brand & AI Architect


Kamera Sudah Mati. Namun Pelajarannya Tetap Hidup.
Ada pengalaman kerja yang selesai ketika proyeknya berakhir.

Ada juga pengalaman yang ternyata terus bekerja di dalam kepala kita, bahkan bertahun-tahun setelahnya.

Bagi saya, salah satunya adalah ketika mendapat kesempatan menjadi producer dan director serial televisi Martha Tilaar Marketing in Venus yang tayang di Metro TV.

Program ini mengangkat pemikiran marketing dari buku Marketing in Venus karya Pak Hermawan Kartajaya dan penerapan prinsip-prinsipnya dalam bisnis Martha Tilaar Group.

Dalam proses produksi yang berlangsung sepanjang banyak episode, saya melakukan riset dan berdiskusi secara mendalam dengan Pak Hermawan mengenai substansi setiap episode. Saya juga belajar langsung bersama Ibu Martha tentang bagaimana prinsip-prinsip tersebut diterapkan dalam bisnis yang beliau bangun.

Waktu itu, dunia saya adalah dunia kreatif dan produksi audiovisual.

Pekerjaan saya menerjemahkan gagasan menjadi tayangan yang menarik, mudah dipahami, dan cukup kuat untuk membuat penonton bertahan mengikuti sebuah pembahasan.

Saya harus memikirkan cerita, struktur episode, penyampaian, visual, dan bagaimana sebuah gagasan yang mungkin terdengar rumit bisa menjadi sesuatu yang terasa dekat dengan kehidupan penonton.

Kedengarannya seperti pekerjaan produksi televisi biasa.

Ternyata tidak.

Karena materi yang harus saya terjemahkan bukan sekadar informasi tentang produk kecantikan.

Saya berhadapan dengan pemikiran marketing dari salah satu tokoh pemasaran terkemuka Indonesia dan penerapannya dalam bisnis yang dibangun oleh seorang perempuan dengan pengalaman luar biasa dalam industri kecantikan.

Dan saya mendapatkan kesempatan untuk berdiskusi langsung dengan keduanya.

Bukan hanya dalam satu pertemuan atau sebuah wawancara singkat.

Prosesnya panjang. Percakapannya banyak. Setiap episode membawa persoalan dan pembelajaran tersendiri.

Dari pekerjaan itulah hubungan saya dengan kedua tokoh tersebut tumbuh menjadi semakin dekat.

Namun ada satu hal yang baru semakin saya sadari belakangan.

Saya datang untuk membuat sebuah program televisi. Tetapi ternyata saya sedang mendapatkan kesempatan belajar marketing dengan cara yang tidak biasa.


Sebuah Buku tentang Planet yang Bernama Venus

Untuk memahami mengapa pengalaman itu begitu berharga, kita perlu kembali ke sebuah buku.

Marketing in Venus.

Buku karya Pak Hermawan Kartajaya bersama rekan penulisnya ini diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama pada awal 2000-an.

Judulnya menarik.

Mengapa Venus?

Buku ini menggunakan metafora perpindahan dari Mars ke Venus untuk menggambarkan perubahan dunia pemasaran.

Dalam pendekatan marketing yang lebih tradisional, konsumen sering dipahami terutama sebagai pengambil keputusan rasional.

Perusahaan menonjolkan fungsi produk, harga, distribusi, dan keunggulan dibandingkan pesaing.

Logikanya sederhana: jika sebuah produk lebih baik, konsumen seharusnya memilihnya.

Tetapi manusia tidak sesederhana itu.

Kita mungkin membeli sesuatu karena manfaatnya. Namun keputusan tersebut juga dipengaruhi perasaan, pengalaman, hubungan, kepercayaan, dan makna yang kita berikan kepada sebuah brand.

Sebuah produk bisa memiliki fungsi yang bagus, tetapi tidak membuat orang merasa terhubung.

Sebaliknya, sebuah pengalaman yang menyenangkan bisa membuat brand lebih mudah diingat, bahkan ketika konsumen tidak sedang membutuhkan produknya.

Inilah salah satu perubahan besar yang dibaca Pak Hermawan melalui metafora Venus.

Venus dalam buku tersebut bukan sekadar soal memasarkan produk kepada perempuan. Ia menjadi metafora bagi dunia konsumen yang menuntut kepekaan lebih besar terhadap sisi emosional, pengalaman, dan hubungan antarmanusia.

Tentu, metafora gender dalam buku tersebut perlu dibaca sesuai konteks zamannya. Kita tidak harus menganggap bahwa perempuan selalu emosional dan laki-laki selalu rasional.

Yang jauh lebih penting adalah gagasan di baliknya:

Keputusan konsumen tidak bisa dipahami hanya melalui manfaat fungsional.

Melalui 18 Guiding Principles of Marketing in Venus, buku tersebut mengajak para marketer memikirkan kembali cara memahami pelanggan dan membangun hubungan dengan mereka.

Ada pembahasan tentang customer insight, termasuk kemampuan menemukan kebutuhan pelanggan yang belum sepenuhnya terungkap.

Ada pentingnya empati dalam pelayanan.

Ada gagasan bahwa produk dan layanan perlu menghadirkan pengalaman, bukan sekadar menjalankan fungsi.

Ada pula pemikiran mengenai keterlibatan pelanggan, komunitas, segmentasi yang dinamis, karisma brand, dan pentingnya menepati janji merek.

Bagi saya, menarik bahwa buku ini lahir ketika teknologi informasi, khususnya internet, mulai mengubah hubungan antara perusahaan dan konsumen.

Waktu itu, internet sendiri masih berada dalam fase perkembangan yang sangat berbeda dibandingkan sekarang.

Apalagi AI generatif yang hari ini mulai mengubah cara orang mencari informasi, berinteraksi dengan brand, dan mengambil keputusan pembelian.

Teknologi AI tentu sudah memiliki sejarah panjang dalam dunia penelitian. Namun AI generatif belum hadir sebagai teknologi yang digunakan masyarakat luas dan bisnis sehari-hari seperti sekarang.

Dan justru di tengah kondisi teknologi yang masih sangat berbeda tersebut, Marketing in Venus membahas persoalan yang hingga hari ini tetap relevan.

Bagaimana memahami manusia?

Bagaimana membangun hubungan?

Bagaimana menciptakan pengalaman yang tidak hanya memenuhi kebutuhan fungsional, tetapi juga memiliki makna bagi pelanggan?

Pertanyaan-pertanyaan itu menjadi semakin menarik ketika saya tidak hanya mempelajari bukunya.

Saya berkesempatan membahas pemikirannya langsung dengan Pak Hermawan.

Lalu melihat bagaimana prinsip-prinsip tersebut memiliki hubungan dengan praktik bisnis Ibu Martha Tilaar.


Dari Buku, Menjadi Program Televisi, Lalu Menjadi Buku tentang Martha Tilaar

Ada bagian menarik dari perjalanan Marketing in Venus yang mungkin belum banyak diketahui orang.

Pemikirannya tidak hanya hadir dalam buku Pak Hermawan.

Prinsip-prinsip tersebut juga menjadi dasar serial televisi Martha Tilaar Marketing in Venus yang saya kerjakan sebagai producer dan director untuk Metro TV.

Selain itu, ada pula buku turunan berjudul Martha Tilaar Marketing in Venus, yang membahas penerapan prinsip-prinsip marketing dari buku Pak Hermawan dalam praktik bisnis Martha Tilaar Group.

Bagi saya, keberadaan buku tersebut penting.

Karena ia menunjukkan bahwa hubungan antara pemikiran marketing dan pengalaman bisnis Ibu Martha tidak hanya menjadi bahan pembicaraan dalam program televisi.

Hubungan itu juga menjadi materi yang didokumentasikan dalam bentuk buku.

Ada pemikiran yang dirumuskan.

Ada praktik bisnis yang menjadi konteks penerapannya.

Dan ada upaya menerjemahkan hubungan keduanya agar dapat dipelajari oleh lebih banyak orang.

Melalui buku asli, orang bisa mempelajari prinsip-prinsip Marketing in Venus.

Melalui program televisi, orang dapat mengikuti pembahasannya dalam bentuk audiovisual.

Sementara buku Martha Tilaar Marketing in Venus membawa pembaca pada penerapan prinsip-prinsip tersebut dalam lingkungan bisnis Ibu Martha.

Bagi saya, ketiganya memiliki hubungan yang sangat personal.

Karena ketika sebuah prinsip marketing dibahas dalam program televisi, pekerjaan saya bukan sekadar memindahkan isi buku ke layar.

Saya harus memahami pemikiran Pak Hermawan.

Mendalami penerapannya bersama Ibu Martha.

Kemudian mencari cara agar hubungan antara gagasan dan kenyataan tersebut bisa dipahami penonton.

Dan justru melalui proses itulah saya mendapatkan pembelajaran yang sangat mendalam.

Sebuah gagasan yang semula berada dalam buku menjadi sesuatu yang saya diskusikan, pertanyakan, olah, dan terjemahkan berulang kali.

Saya tidak hanya belajar tentang isi pemikirannya.

Saya juga belajar bagaimana sebuah pemikiran dapat dikomunikasikan tanpa kehilangan makna.

Dan bagaimana pemikiran tersebut dapat dipahami melalui pengalaman bisnis yang nyata.

Sebuah gagasan tidak otomatis menjadi lebih bermakna hanya karena berhasil disampaikan kepada banyak orang. Nilainya menjadi lebih kuat ketika gagasan itu benar-benar dipahami dan memiliki hubungan dengan kenyataan.


Understand Before You Build: Pelajaran yang Ternyata Sudah Saya Jalani Sejak Dulu

Ada satu tantangan dalam pekerjaan kreatif yang sering tidak terlihat oleh penonton.

Sebuah tayangan bisa berlangsung singkat.

Tetapi untuk membuatnya terasa sederhana, orang-orang di baliknya justru harus memahami persoalan yang jauh lebih kompleks.

Saya tidak bisa sekadar mengambil beberapa kalimat dari buku Marketing in Venus, menyusunnya menjadi naskah, lalu menganggap pekerjaan selesai.

Kalau saya sendiri belum memahami gagasannya, bagaimana saya bisa menjelaskannya kepada penonton?

Bagaimana saya menentukan bagian mana yang penting?

Bagaimana memilih contoh yang tepat?

Bagaimana mengubah sebuah prinsip marketing menjadi cerita yang tidak terasa seperti kuliah di televisi?

Itulah sebabnya proses riset dan diskusi menjadi bagian yang sangat penting.

Untuk setiap episode, saya membahas pemikiran Pak Hermawan secara detail.

Saya harus memahami bukan hanya apa yang beliau katakan, tetapi apa yang sebenarnya beliau maksud.

Mengapa prinsip itu penting?

Persoalan apa yang ingin dijawab?

Apa yang membedakannya dari pendekatan marketing yang selama ini dianggap biasa?

Kemudian, bersama Ibu Martha, saya belajar bagaimana pemikiran-pemikiran tersebut memiliki hubungan dengan praktik bisnis yang nyata.

Di sinilah proses produksi berubah menjadi proses pembelajaran yang luar biasa.

Karena saya tidak cukup hanya mengingat sebuah teori.

Saya harus mengolahnya.

Memahaminya.

Mencari cara menjelaskannya.

Lalu mengulang proses itu untuk episode berikutnya.

Dan berikutnya lagi.

Semakin lama, gagasan-gagasan itu tidak lagi terasa seperti materi produksi yang harus saya hafalkan.

Ia mulai menjadi bagian dari cara saya melihat sebuah persoalan.

Saya harus memahami sebuah gagasan agar bisa membuat orang lain memahaminya. Tetapi justru proses itulah yang membuat gagasan tersebut menetap dalam pikiran saya.

Sekarang, dalam pekerjaan saya sebagai Brand & AI Architect, ada satu prinsip yang selalu saya pegang:

Understand Before You Build.

Pahami dahulu sebelum membangun.

Sebelum merancang brand, pahami manusia dan persoalan yang ingin diselesaikan.

Sebelum menyusun strategi, pahami bisnis, pasar, dan konteksnya.

Sebelum menerapkan teknologi, termasuk AI, pahami mengapa teknologi tersebut dibutuhkan dan apa konsekuensinya.

Ketika saya menengok kembali pengalaman mengerjakan Marketing in Venus, saya menemukan keselarasan yang sangat kuat.

Dulu, sebelum membangun sebuah tayangan, saya harus memahami gagasan yang akan disampaikan.

Sekarang, sebelum membangun strategi, brand, atau sistem bisnis, saya harus memahami masalah yang hendak diselesaikan.

Objek pekerjaannya berubah.

Tetapi prinsip berpikirnya ternyata sangat dekat.

Dan semakin saya merenungkannya, semakin saya menyadari bahwa pengalaman bersama Pak Hermawan dan Ibu Martha mungkin memiliki pengaruh yang jauh lebih besar daripada yang dahulu saya sadari.

Bisa jadi, tanpa saya sadari, proses panjang bersama kedua tokoh tersebut merupakan salah satu pengalaman penting yang ikut membentuk cara saya memahami, berpikir, mengambil keputusan, dan menjalankan bisnis hingga sekarang.

Saya tidak bisa mengatakan bahwa seluruh filosofi tersebut lahir dari satu program televisi.

Perjalanan profesional tentu dibentuk oleh banyak pengalaman.

Tetapi saya juga tidak ingin mengecilkan pengaruh pengalaman yang begitu mendalam.

Karena ketika seseorang harus memahami sebuah gagasan, mendiskusikannya dengan orang yang merumuskannya, mempelajari penerapannya bersama orang yang menjalankannya, lalu menerjemahkannya berulang kali untuk orang lain, pembelajaran itu tidak lagi berhenti sebagai pengetahuan.

Ia perlahan menjadi cara berpikir.

Dan barangkali itulah salah satu pelajaran paling berharga yang saya dapatkan dari dunia kreatif.

Kreativitas bukan hanya kemampuan menghasilkan sesuatu yang menarik. Kreativitas juga menuntut kemampuan memahami sesuatu dengan cukup dalam, sebelum kita mencoba menyampaikannya dengan cara yang sederhana.


Bersama Ibu Martha, Marketing Tidak Lagi Berhenti sebagai Teori

Ada hal yang membuat pengalaman ini berbeda dari sekadar mendalami sebuah buku marketing.

Saya berkesempatan belajar dari Ibu Martha Tilaar.

Ketika membaca Marketing in Venus, kita menemukan berbagai gagasan tentang empati, pengalaman pelanggan, hubungan emosional, dan kemampuan memahami kebutuhan manusia.

Bersama Ibu Martha, saya melihat bahwa gagasan-gagasan semacam itu bukan hanya menarik untuk dibicarakan.

Ia memiliki keselarasan dengan cara beliau membangun dan menjalankan bisnis kecantikannya.

Perjalanan bisnis Ibu Martha tentu terlalu luas untuk disederhanakan menjadi penerapan sebuah buku.

Dan pemikiran beliau tidak lahir semata-mata dari Marketing in Venus.

Justru itulah yang menarik.

Pak Hermawan dan Ibu Martha memiliki pengalaman dan cara berpikir masing-masing.

Keduanya bukan sosok yang bisa dipisahkan secara sederhana menjadi satu orang yang memahami teori dan satu orang yang hanya menjalankan praktik.

Keduanya memiliki kedalaman pemikiran dan pengalaman nyata dalam dunia bisnis.

Namun ketika pemikiran Pak Hermawan dibicarakan dalam konteks bisnis Ibu Martha, saya menemukan banyak titik pertemuan.

Bahkan penerapan prinsip-prinsip tersebut menjadi bahan sebuah buku tersendiri, Martha Tilaar Marketing in Venus.

Bagi saya, hal tersebut memperlihatkan sesuatu yang penting tentang Ibu Martha.

Beliau bukan sekadar pebisnis yang berhasil mengembangkan perusahaan kosmetik.

Beliau juga memahami marketing.

Bukan hanya marketing sebagai aktivitas menjual atau mempromosikan produk.

Tetapi marketing sebagai kemampuan memahami manusia, membangun hubungan, menciptakan pengalaman, dan menerjemahkan pemahaman tersebut menjadi keputusan bisnis.

Dan semakin banyak kesempatan saya berdiskusi dengan beliau, semakin saya melihat kedalaman pemikiran itu.

Kedekatan kami pun tumbuh melalui proses yang sangat alami.

Banyak episode berarti banyak waktu untuk berdiskusi, bekerja, mendengarkan, dan saling mengenal.

Tidak semua pelajaran datang dalam bentuk pernyataan besar.

Kadang, pelajaran justru muncul ketika kita mendengarkan bagaimana seseorang menjelaskan alasan di balik sebuah keputusan.

Atau ketika sebuah konsep yang terdengar rumit ternyata bisa dipahami melalui pengalaman bisnis sehari-hari.

Di situlah saya mulai melihat bahwa seorang marketer yang hebat bukan hanya mampu menjelaskan apa yang seharusnya dilakukan sebuah brand. Ia juga mampu memahami mengapa keputusan itu perlu diambil.


Ketika Pelajaran Itu Masuk ke Dalam Cara Saya Menjalankan Bisnis

Program televisi itu akhirnya menjadi bagian dari perjalanan profesional saya.

Namun gagasan-gagasan yang saya pelajari tidak ikut selesai ketika proses produksinya berakhir.

Saya masih membawanya.

Bukan sebagai hafalan 18 prinsip.

Bukan pula sebagai kumpulan istilah marketing yang bisa digunakan agar terdengar pintar.

Yang menetap justru cara berpikirnya.

Bahwa kita perlu memahami pelanggan lebih dalam daripada sekadar mengetahui apa yang mereka beli.

Bahwa pengalaman tidak bisa digantikan sepenuhnya oleh komunikasi.

Bahwa hubungan emosional tidak lahir hanya karena sebuah brand mengatakan dirinya dekat dengan konsumen.

Dan bahwa sebelum kita membangun sebuah solusi, kita perlu memahami persoalan yang sebenarnya.

Ketika perjalanan profesional saya berkembang dari dunia kreatif menuju brand consulting dan pengelolaan bisnis, pelajaran-pelajaran itu menemukan konteks baru.

Saya mulai melihat bahwa banyak persoalan brand bukan terjadi karena perusahaan kekurangan ide.

Sering kali, perusahaan justru memiliki terlalu banyak ide.

Terlalu banyak kampanye.

Terlalu banyak aktivitas.

Terlalu banyak keinginan untuk terlihat berbeda.

Tetapi belum cukup memahami siapa manusia yang sebenarnya ingin mereka layani.

Dalam pengelolaan bisnis pun saya semakin menyadari bahwa keputusan yang terlihat masuk akal di atas kertas belum tentu tepat ketika dihadapkan pada kenyataan.

Sebuah produk mungkin bisa dibuat.

Sebuah kampanye mungkin bisa dijalankan.

Sebuah teknologi mungkin bisa diterapkan.

Tetapi kemampuan untuk melakukan sesuatu tidak otomatis menjawab apakah sesuatu itu memang perlu dilakukan.

Di sinilah pembelajaran dari masa produksi Marketing in Venus terasa semakin relevan.

Dulu saya harus memahami pemikiran sebelum membangun sebuah tayangan.

Sekarang saya harus memahami persoalan sebelum membangun sebuah keputusan.

Ketika sebuah perusahaan ingin meluncurkan produk, pertanyaan pertama seharusnya bukan hanya produk apa yang bisa dibuat.

Ketika sebuah brand ingin menjalankan kampanye, pertanyaannya bukan hanya ide kreatif apa yang terlihat menarik.

Dan ketika sebuah bisnis ingin menggunakan AI, pertanyaannya bukan hanya teknologi apa yang sedang populer.

Pertanyaannya lebih mendasar.

Apa sebenarnya yang ingin kita pahami dan selesaikan?

Saya tidak tahu seberapa besar pengaruh setiap percakapan bersama Pak Hermawan dan Ibu Martha terhadap keputusan-keputusan yang saya ambil bertahun-tahun kemudian.

Namun saya tahu bahwa pengalaman tersebut memberikan fondasi pembelajaran yang sangat kuat.

Dan mungkin, tanpa saya sadari, sebagian dari cara saya menjalankan bisnis hari ini tumbuh dari proses panjang memahami pemikiran kedua tokoh tersebut.

Ada hal yang menarik tentang pengetahuan.

Ketika kita benar-benar memahaminya, pengetahuan tidak selalu terasa seperti sesuatu yang sedang kita ingat.

Kadang, ia sudah menjadi bagian dari cara kita berpikir.


Membaca Kembali Marketing in Venus di Era AI

Sekarang saya bekerja di persimpangan antara brand, teknologi, AI, dan sistem bisnis.

Dunia marketing telah berubah sangat jauh dibandingkan ketika Marketing in Venus diterbitkan.

Dulu kita membicarakan internet sebagai teknologi yang mengubah hubungan perusahaan dengan pelanggan.

Sekarang kita membicarakan AI yang bisa menganalisis perilaku, mengolah data, menghasilkan konten, mempersonalisasi komunikasi, bahkan membantu pelanggan menemukan dan membandingkan brand.

Kemampuannya luar biasa.

Tetapi semakin jauh teknologi berkembang, semakin menarik bagi saya untuk membaca kembali beberapa gagasan lama dari Marketing in Venus.

Misalnya tentang customer insight.

Hari ini perusahaan bisa memiliki dashboard yang sangat lengkap.

Mereka mengetahui jumlah klik, waktu kunjungan, riwayat pembelian, dan berbagai pola perilaku.

Namun mengetahui pola tidak otomatis berarti memahami alasan di balik pola tersebut.

Data bisa memperlihatkan apa yang dilakukan pelanggan. Tetapi belum tentu menjelaskan apa yang sebenarnya mereka rasakan atau butuhkan.

Atau tentang empati.

AI dapat membantu perusahaan memberikan respons yang semakin relevan dan personal.

Tetapi respons yang terdengar empatik belum tentu berasal dari pemahaman yang memadai terhadap situasi seseorang.

Ada perbedaan antara menyebut nama pelanggan dan benar-benar memahami kebutuhannya.

Ada perbedaan antara merekomendasikan produk berdasarkan pola dan mempertimbangkan apakah rekomendasi itu memang tepat bagi orang tersebut.

Begitu juga dengan pengalaman.

Teknologi bisa membuat proses pembelian semakin cepat, komunikasi semakin otomatis, dan layanan semakin mudah diakses.

Namun efisiensi tidak selalu menghasilkan pengalaman yang bermakna.

Kadang perusahaan menjadi semakin pandai mengelola interaksi, tetapi semakin jauh dari pemahaman tentang manusia yang berinteraksi dengannya.

Saya tidak sedang mengatakan bahwa buku Marketing in Venus telah meramalkan perkembangan AI hari ini.

Bukan itu maksudnya.

Yang menarik adalah bahwa perubahan teknologi tidak serta-merta menghilangkan persoalan mendasar dalam marketing.

Bagaimana memahami manusia?

Bagaimana membangun kepercayaan?

Bagaimana menciptakan pengalaman yang bernilai?

Bagaimana membuat sebuah brand benar-benar relevan dalam kehidupan pelanggannya?

Pertanyaan-pertanyaan itu masih ada.

Teknologinya berubah.

Cara menjawabnya berkembang.

Tetapi pentingnya memahami manusia tidak berkurang.

Bahkan, menurut saya, ketika semakin banyak keputusan dan interaksi dibantu oleh AI, kemampuan manusia untuk memahami konteks, menilai bukti, dan menentukan keputusan yang tepat justru menjadi semakin penting.

AI dapat memperluas kemampuan kita untuk mengenali pola. Tetapi memahami makna sebuah pola, menilai konsekuensinya, dan menentukan apa yang layak dilakukan tetap membutuhkan human judgment.

Di sinilah saya melihat hubungan yang semakin kuat antara pemikiran dalam Marketing in Venus, pengalaman bersama Ibu Martha, dan filosofi Understand Before You Build yang saya pegang hari ini.

Kita bisa memiliki teknologi yang jauh lebih canggih daripada dua dekade lalu.

Tetapi kalau kita belum benar-benar memahami manusia yang ingin kita layani, kecanggihan itu belum tentu membawa kita pada keputusan yang lebih baik.

Dan ketika saya membaca kembali pengalaman bersama Ibu Martha, saya melihat betapa relevannya pelajaran tersebut.


Ibu Martha Tilaar dan Cara Saya Memahami Seorang Marketer

Kita sering mengenal seorang pengusaha melalui apa yang berhasil dibangunnya.

Berapa banyak brand yang dimiliki.

Seberapa besar perusahaannya.

Seberapa luas distribusinya.

Atau seberapa lama bisnisnya mampu bertahan.

Semua itu penting.

Namun pengalaman saya bersama Ibu Martha memberikan kesempatan untuk melihat sisi yang lain.

Cara beliau berpikir.

Cara beliau memahami marketing.

Cara beliau menghubungkan gagasan dengan kenyataan bisnis.

Dan bagaimana beliau bisa berdiskusi mengenai prinsip-prinsip pemasaran bukan hanya sebagai konsep, tetapi sebagai sesuatu yang memiliki konsekuensi dalam keputusan nyata.

Bagi saya, itulah salah satu alasan Ibu Martha layak dikenang bukan hanya sebagai pendiri perusahaan kecantikan.

Beliau juga seorang pemikir dan marketer yang memiliki banyak hal untuk dipelajari.

Saya merasa sangat beruntung pernah mendapatkan kesempatan untuk mengenal sisi tersebut.

Dan saya juga beruntung pernah belajar langsung dari Pak Hermawan Kartajaya, seorang tokoh yang pemikirannya telah membantu begitu banyak orang memahami perkembangan marketing.

Dua tokoh.

Dua perjalanan yang berbeda.

Dan sebuah program televisi yang mempertemukan pemikiran mereka dengan pekerjaan saya sebagai seorang praktisi kreatif.

Ketika mengerjakan serial itu, mungkin perhatian utama saya adalah bagaimana membuat setiap episode menjadi tayangan yang baik.

Sekarang, bertahun-tahun kemudian, saya menyadari bahwa nilai terbesarnya justru tidak seluruhnya berada di layar televisi.

Sebagian ada dalam percakapan-percakapan panjang.

Dalam riset yang harus saya lakukan.

Dalam gagasan yang harus saya pahami.

Dan dalam kesempatan untuk mengenal dua manusia yang telah memberikan kontribusi besar bagi dunia bisnis dan marketing Indonesia.

Terutama Ibu Martha.

Terima kasih, Ibu Martha Tilaar.

Untuk kesempatan belajar.

Untuk waktu dan percakapan.

Untuk pemikiran yang dibagikan.

Dan untuk pelajaran yang ternyata masih terus bekerja dalam cara saya memahami marketing, brand, bisnis, teknologi, dan manusia hingga hari ini.


Dulu saya harus memahami sebuah gagasan agar bisa menjelaskannya kepada penonton. Bertahun-tahun kemudian, saya menyadari bahwa gagasan yang benar-benar kita pahami tidak berhenti ketika pekerjaan selesai. Ia ikut membentuk cara kita berpikir, mengambil keputusan, dan membangun sesuatu yang berarti.


Bacaan dan Referensi

Marketing in Venus — Pak Hermawan Kartajaya dan rekan penulis. Gramedia Pustaka Utama. Buku yang menjadi dasar pemikiran program televisi.

Martha Tilaar Marketing in Venus — Buku yang membahas penerapan prinsip-prinsip Marketing in Venus dalam praktik bisnis Martha Tilaar Group.

18 Prinsip Penting dari Buku Marketing in Venus — Marketeers

Pemasaran untuk Kaum Venusian — Marketeers

Katalog Marketing in Venus — Perpustakaan Telkom University

Tulisan ini merupakan refleksi personal penulis berdasarkan pengalaman langsung sebagai producer dan director serial televisi Martha Tilaar Marketing in Venus di Metro TV, termasuk proses riset dan diskusi bersama Ibu Martha Tilaar dan Pak Hermawan Kartajaya. Interpretasi mengenai brand, bisnis, dan AI merupakan pembacaan penulis dari perspektif profesional saat ini.

Artikel Terkait