Google Mulai Uji Coba Pembayaran Langsung ke Publisher untuk Konten AI
Google telah mengonfirmasi bahwa program pembayaran ke publisher untuk konten yang digunakan dalam jawaban AI masih berada pada tahap awal. Menurut laporan Digiday, setidaknya puluhan penerbit telah didekati untuk mengikuti uji coba ini. Publisher akan menerima kompensasi ketika konten mereka berkontribusi secara signifikan dalam proses pembuatan jawaban AI. Konten yang hanya berfungsi memverifikasi fakta atau ditambahkan setelah jawaban terbentuk tidak termasuk dalam kategori yang dibayar.
Penerbit yang setuju untuk berpartisipasi akan mendapatkan panel khusus di Search Console. Panel tersebut menampilkan estimasi pendapatan bulanan dan riwayat pendapatan dari kontribusi AI. Fitur ini memberikan transparansi lebih besar bagi publisher untuk memantau nilai konten mereka dalam ekosistem pencarian berbasis AI. Selain itu, publisher dapat memilih keluar dari program kapan saja melalui pengaturan yang tersedia.
Brand Mulai Melacak Visibilitas AI, tetapi Apakah Metriknya Sudah Tepat?
Seiring makin banyaknya jawaban AI muncul di hasil pencarian, brand dan pemasar mulai memantau seberapa sering merek mereka dikutip oleh model AI. Namun, pertanyaan penting muncul: apakah mereka benar-benar mengukur hal yang tepat? Visibilitas AI tidak bisa disamakan dengan peringkat kata kunci tradisional karena konteks jawaban AI sangat dinamis. Tanpa metrik yang jelas, data visibilitas AI bisa menyesatkan pengambilan keputusan.
Pengukuran yang hanya berfokus pada frekuensi penyebutan merek belum tentu mencerminkan kualitas atau pengaruh konten terhadap jawaban akhir. Brand perlu mempertimbangkan apakah konten mereka menjadi sumber utama atau hanya pelengkap verifikasi. Perubahan algoritme AI yang cepat juga membuat pengukuran jangka pendek kurang andal. Oleh karena itu, tim SEO perlu mengembangkan kerangka kerja evaluasi yang lebih adaptif.
Cloudflare Perkenalkan Pengaturan Baru untuk Mengontrol Crawler AI dan Search
Cloudflare baru-baru ini mengubah cara pengguna mengelola akses crawler ke situs mereka. Opsi Choosing Block yang lama kini akan memblokir ketiga jenis crawler sekaligus, termasuk crawler mesin pencari biasa. Ini bisa berdampak buruk pada indeksasi organik jika tidak disadari oleh pemilik situs. Oleh karena itu, Cloudflare menghadirkan pengaturan baru bernama Disallow AI Training.
Dengan pengaturan Disallow AI Training, mesin pencari tetap diizinkan untuk merayapi situs guna keperluan indeksasi, tetapi crawler AI pelatihan diblokir. Cloudflare akan memperbarui blok Training yang sudah ada secara otomatis agar sesuai dengan pengaturan baru ini. Sementara itu, opsi lama seperti Block AI Bots dan Managed Robots.txt akan segera ditinggalkan. Langkah ini menyederhanakan kontrol sekaligus mengurangi risiko blokir yang tidak disengaja.
Integrasi dengan Google-Extended dan Applebot-Extended
Pada sisi Google, pengaturan baru Cloudflare ini dikelola melalui sinyal Google-Extended. Sinyal tersebut memungkinkan publisher mengontrol apakah konten mereka boleh digunakan untuk melatih model AI Google seperti Gemini. Sementara itu, Apple menggunakan Applebot-Extended untuk fungsi serupa pada ekosistem Apple Intelligence. Kedua mekanisme ini berbasis robots.txt dan dapat diatur langsung dari dashboard Cloudflare.
Perbedaan utama terletak pada cakupan: Google-Extended hanya memengaruhi pelatihan AI, bukan crawling pencarian biasa. Dengan demikian, publisher dapat memisahkan antara izin untuk indeksasi dan izin untuk pelatihan model. Ini memberi fleksibilitas yang lebih besar bagi pemilik situs yang ingin tetap tampil di hasil pencarian tetapi tidak ingin kontennya dipakai melatih AI. Cloudflare menegaskan bahwa pengaturan ini akan terus disempurnakan.
Microsoft Belum Mendukung Preferensi No-Training, Rencana Dukungan di 2027
Berbeda dari Google dan Apple, Microsoft hingga saat ini belum mendukung preferensi no-training melalui robots.txt. Hal ini diungkapkan langsung oleh Cloudflare dalam dokumentasi terbarunya. Akibatnya, publisher yang ingin memblokir crawler AI Microsoft harus menggunakan metode lain di luar standar robots.txt. Situasi ini menciptakan celah kontrol yang perlu diperhatikan oleh pemilik situs.
Namun, Microsoft dilaporkan berencana untuk mengerjakan dukungan preferensi no-training pada awal tahun 2027. Sampai saat itu, pemilik situs disarankan untuk memantau pembaruan dari Microsoft dan menyesuaikan strategi akses crawler secara berkala. Keterlambatan ini juga menunjukkan bahwa standar industri untuk kontrol AI masih dalam tahap pematangan. Publisher sebaiknya tidak hanya bergantung pada satu platform untuk melindungi konten mereka.
Langkah Praktis bagi Publisher dan Tim SEO
Menghadapi perubahan ini, publisher perlu meninjau kembali konfigurasi robots.txt dan pengaturan Cloudflare mereka. Pastikan bahwa pemblokiran crawler AI tidak secara tidak sengaja menghapus akses crawler mesin pencari. Gunakan Google-Extended dan Applebot-Extended secara selektif sesuai kebutuhan bisnis. Sementara itu, bagi yang tertarik dengan program pembayaran Google, evaluasi apakah nilai kompensasi sebanding dengan potensi penggunaan konten.
Tim SEO juga harus mulai membangun metrik visibilitas AI yang lebih bermakna, misalnya dengan memantau kutipan dalam jawaban AI dan membandingkannya dengan konversi nyata. Jangan hanya mengejar angka penyebutan tanpa memahami konteks kontribusi. Kolaborasi antara tim konten, teknis, dan analitik menjadi kunci untuk memanfaatkan peluang baru ini. Dengan pendekatan yang terukur, publisher dapat tetap relevan di era pencarian berbasis AI.